Minggu, 18 Oktober 2015

THE COKEVILLE MIRACLE (2015)

Judul Film : The Cokeville Miracle
Sutradara : T.C. Christensen
Pemeran : Nathan Stevens, Jasen Wade, Caitlin E.J. Meyer
Tanggal Rilis : 5 Juni 2015


Tanggal 16 Mei 1996 silam, terjadi kejadian yang cukup menegangkan di Sekolah Dasar Cokeville (Cokeville Elementary School) yang terletak di Cokeville, Wyoming, Amerika Serikat. Pada tanggal tersebut, seorang mantan petugas keamanan kota tersebut bernama David Young dan istrinya (Doris Young) menyandera 136 anak-anak dan 18 orang dewasa di sekolah tersebut. Dalam menjalankan aksinya, David memasang bom di sekolah dan berencana untuk membunuh semua anak dan guru di sekolah tersebut.

Tidak jelas apa tujuan Young melakukan hal itu. Spekulasi yang beredar adalah Young ingin mendirikan Dunia Baru (Brand New World) dan mencanangkan revolusi manusia, dimulai dari sekolah itu.

Meski bom yang dipasang Young meledak di sekolah itu, secara ajaib tidak seorang murid dan guru pun yang tewas dalam ledakan itu. Sesaat setelah bom yang dipasangnya meledak, Young membunuh istrinya, lalu bunuh diri di tempat kejadian.

Insiden ini menarik perhatian sineas T.C. Christensen yang kemudian mereka ulang kejadian itu ke dalam film produksinya : The Cokeville Miracle. Film yang dirilis tanggal 5 Juni 2015 silam tersebut mendapat sambutan yang hangat dari penonton.

Christensen yang biasanya membuat film-film bertemakan ajaran Latter-Day Saint (LDS) seperti 17 Miracles dan Ephraim's Rescue, mendapat pujian karena mengangkat tema cerita yang sangat berbeda dari biasanya. Alurnya dibuat tidak tampak sebagai film rohani, tapi justru sama seperti film-film komersil pada umumnya. Tidak heran kalau film ini kemudian mendapat kesempatan untuk tayang di bioskop besar yang biasa menayangkan film-film komersil.

Dengan menggunakan alur yang sama dengan kejadian sebenarnya, film ini diawali dengan pergumulan iman Ron Hartley (Jasen Wade) - seorang polisi di Cokeville - yang mulai meragukan keberadaan Tuhan setelah melihat banyak kejahatan sadis di sekitar kota. Hal ini menimbulkan ketegangan antara Hartley dan keluarganya. Dia kemudian meminta tanda, apakah Tuhan masih benar-benar ada dan dia minta penguatan pada imannya.

Jawaban Tuhan benar-benar di luar dugaan. Tidak lama berselang, David Young (Nathan Stevens) dan istrinya, Doris Young (Kymberly Mellen), menyandera murid-murid dan guru di Sekolah Dasar Cokeville. Mereka meminta tebusan US$ 200 juta kepada Pemerintah Kota Cokeville. Jika permintaan mereka tidak ditanggapi, maka sekolah akan diledakkan. Untuk membuktikan ucapannya bukan isapan jempol, Young kemudian memasang bom di seluruh bagian sekolah. Di tengah ketakutan mereka, para guru meminta murid-muridnya untuk berdoa bersama di dalam kelas, meminta pertolongan dari Tuhan.

Keajaiban terjadi. Ketika David keluar dari kelas, secara tidak sengaja Doris menekan tombol pemicu bom, yang menyebabkan bom meledak. Ajaibnya, tidak satu pun murid dan guru yang tewas dalam ledakan tersebut. Mereka hanya terluka, dan langsung mendapat pertolongan polisi. Tidak mau masuk penjara, David kemudian membunuh istrinya, kemudian bunuh diri. Lewat kejadian ini, iman Hartley dikuatkan. Dia pun menyadari begitu besar kuasa Tuhan yang turut campur tangan dalam kejadian itu, sehingga meski terkena bom, namun semua sandera selamat.

Film ini memiliki banyak elemen yang baik dan di atas rata-rata film Rohani pada umumnya. Alurnya sangat cepat. Penuh aksi yang tegang, sehingga durasi film yang 93 menit terasa berlalu dengan sangat cepat. Selain itu, film ini cukup ringan (tidak membahas konsep teologi rumit seperti film God's Not Dead) sehingga sangat asyik untuk ditonton. Secara umum, film ini sangat berhasil menjalankan misinya sebagai sebuah tontonan ringan yang memberikan penguatan, terutama bagi orang-orang yang imannya sudah mundur.



DO YOU KNOW? 
Sutradara T.C. Christensen meminta Nathan Stevens - pemeran David Young - untuk tidak berinteraksi dengan anak-anak pemeran siswa sekolah Cokeville selama proses pembuatan film. Cara ini cukup ampuh. Saat shooting berlangsung, anak-anak menjadi takut pada Nathan. Reaksi yang mereka tampilkan di film adalah reaksi ketakutan yang sebenarnya, bukan akting.

Shooting film ini dilakukan di Sekolah Dasar Whitesides yang terletak di Layton, Utah, Amerika Serikat. Ada tiga alasan mengapa sekolah tersebut dipilih : Pertama, Sekolah Dasar Whitesides memiliki kemiripan struktur dan fisik sekolah dengan Cokeville. Kedua, di sekitar Whitesides terdapat banyak hotel, restoran, dan infrastruktur yang sangat membantu proses pembuatan film. Dan yang ketiga : Christensen adalah lulusan dari Sekolah Dasar Whitesides.

Selain film The Cokeville Miracle, insiden pengeboman Sekolah Dasar Cokeville ini pun juga dibuat dalam versi film-televisi berjudul To Save the Children (2006) dan ditulis dalam buku berjudul The Cokeville Miracle : When Angels Intervene yang ditulis oleh Hartt Wixon dan istrinya, Judene (buku tersebut diterbitkan oleh Cedar Fort Inc.).




Jumat, 21 Agustus 2015

UNCOMMON (2015)

Judul Film : Uncommon
Sutradara : Bill Rahn
Pemeran  : Erik Estrada, Ben Davies, Irma P. Hall, Courtney Buck, Jason Crabb
Tanggal rilis : 1 September 2015
Durasi : 106 menit

Film ini terbilang unik dan berbeda dengan film Rohani pada umumnya karena mengambil pendekatan pada tari-tarian dan dunia teater. Berfokus pada kehidupan siswa di Rosewood High School, film ini mengisahkan tentang sekelompok siswa yang tergabung dalam Kelompok Seni Teater, Musik, dan Menari yang sedang mempersiapkan pentas seni. Di tengah persiapan itu, mereka dikejutkan dengan keputusan sekolah yang memotong dana pentas mereka.

Dengan dana yang sangat terbatas, dan nyaris tanpa dukungan sekolah, mereka terpaksa harus membuat konsep pentas yang akan mereka tampilkan. Muncullah ide yang "tidak umum" : Konsep pentas menggunakan sumber cerita dari Alkitab. Jelas ini kedengaran konyol. Bahkan banyak anggota kelompok yang mencibir ide itu. Namun secara unik dan misterius, satu-persatu dari mereka mengalami sentuhan Tuhan secara pribadi. Pada akhirnya, dengan mengikuti arahan Roh Kudus yang menggerakkan hati, para siswa itu pun berhasil menciptakan kreasi tarian dan lagu yang - dasyatnya - dapat saling bersinergi, menjadi sebuah cerita narasi yang indah serta berkesinambungan.

Usaha mereka bukan tanpa halangan. Ketika sekolah tahu rencana para siswa itu, beberapa guru dan anggota Yayasan Sekolah tidak setuju. Berbagai cara mereka lakukan untuk menghentikan kegiatan siswa itu. Mulai dari intimidasi, pembatasan gerak, hingga ancaman keluar dari sekolah. Namun dengan semangat untuk memuliakan Tuhan, para siswa itu terus berjuang untuk menyukseskan pentas seni tersebut. Mereka percaya, inilah cara Tuhan untuk menggerakkan hati semua orang agar kembali percaya dan beriman pada Tuhan.

Pesan dalam film ini sangat mendalam : Ada harga yang harus dibayar dalam setiap upaya kita untuk memuliakan Tuhan. Tapi di balik harga itu, ada nilai dan hasil yang berlimpah menanti. Semangat para remaja yang berjuang untuk memuliakan Tuhan lewat tari-tarian dan nyanyian mereka patut menjadi contoh buat kita semua.

Tonton film ini, dan Anda akan melihat bagaimana anak-anak muda memuji dan memuliakan nama Tuhan, dengan cara yang tidak umum : Cara mereka !!!


Selasa, 16 Juni 2015

TV Series - HAND OF GOD (2015 - onward)

Judul : Hand of God
Kreasi : Ben Watkins
Pemeran : Ron Perlman, Dana Delany, Andre Royo, Alona Tal
Tanggal tayang : Agustus 2015 - seterusnya
Durasi   : 42 - 45 menit perepisode

Cukup surprise bagi saya bisa menonton episode perdana serial televisi yang cukup kontroversial ini, karena belum pernah sebelumnya saya mendapat kesempatan seperti ini. Ya, Amazon Store beberapa hari lalu menayangkan serial ini online-streaming, dan bisa ditangkap oleh siapapun di seluruh dunia. Bisa dimaklumi, mengingat Amazon adalah penyandang dana serial ini, dan tujuan penayangan ini adalah untuk mendapatkan respon dari para penonton mengenai serial "religius" ini.

Serial ini diawali dengan adegan mengejutkan : seorang pria tanpa busana berada di tengah pancuran kota, sambil berbicara dalam Bahasa Lidah. Hal itu menarik perhatian banyak orang, yang segera mengabadikan hal itu dengan ponsel mereka. Polisi dengan sigap menolong pria itu, yang belakangan dikenal sebagai Hakim Pernell Harris (Ron Perlman). Saat itu, Harris sama sekali tidak sadar dengan tindakannya dan tidak tahu bagaimana dia tiba-tiba berada di pancuran kota dalam keadaan bugil.

Cerita pun bergulir dan menampilkan siapa diri Harris. Dia adalah seorang hakim dengan moral yang tidak pantas. Di belakang istrinya, dia berselingkuh dengan wanita lain. Dia pun menggunakan kekuasaannya untuk mengambil alih tanah negara. Namun sikapnya berubah ketika satu ketika keluarga anaknya diteror oleh sekelompok orang tidak dikenal. Istrinya diperkosa dihadapan anaknya, dan anaknya kemudian bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Beruntung anaknya tidak tewas tapi koma. Harris bersumpah untuk menegakkan keadilan bagi anaknya. Dalam keputus-asaannya, dia mendatangi Gereja Hand of God untuk meminta pertolongan Tuhan. Di gereja itulah imannya diubahkan.

Pasca kehilangan kesadaran di pancuran kota, Harris tiba-tiba bisa berkomunikasi dengan anaknya yang sedang koma. Dan melalui anaknya itu, Harris merasa Tuhan menyampaikan firman-Nya, serta memberikan misi tertentu pada Harris.

Misi pertama yang didapat Harris adalah mengungkap kasus pemerkosaan yang terjadi pada menantunya, yang membuat anak Harris bunuh diri. Harris mendapatkan "pengarahan" kalau pelakunya adalah seorang anggota polisi. Tidak ada bukti keterkaitan polisi itu dengan kasus yang dialami anak Harris, tapi dia sangat yakin kalau polisi itulah pelakunya.

Lewat perkenalannya dengan seorang mantan napi yang sudah bertobat dan menjadi Penginjil, Harris kemudian meminta napi tersebut untuk mengorek keterangan dari polisi tersebut. Sang napi kemudian menculik sang polisi. Lewat penyiksaan - yang nyaris diakhiri dengan pembunuhan - akhirnya sang napi mendapatkan informasi kalau sang polisi itu memang pelakunya. Tidak hanya itu, dia ternyata melakukan tindakan pemerkosaan itu karena mengincar sebuah "buku" dan tindakan itu tidak dilakukannya sendiri tapi dengan beberapa orang yang lain. Siapakah mereka? Saya terpaksa harus memendam pertanyaan itu dan menunggu kelanjutan ceritanya bulan Agustus mendatang.



REVIEW
Dibutuhkan sikap kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menonton serial ini. Betapa tidak, serial ini dipenuhi adegan yang terbilang "tidak pantas" : seks frontal, penayangan adegan bugil (pria dan wanita), serta adegan penuh darah yang cukup sadis. Bagi sebagian orang, serial ini jelas bukan tontonan yang "rohani".

Tapi jika Anda melihat dari kaca mata lain, adegan-adegan yang ditampilkan serial tersebut merupakan penggambaran dari apa yang sedang terjadi di dunia saat ini : perzinahan, kekejaman, korupsi, kepahitan, penipuan, dan lain-lain. Semuanya ditampilkan dengan terbuka, apa-adanya. Tidak munafik, tidak ditutup-tutupi, apalagi dibuat "manis" seperti kayaknya sebuah drama rohani yang biasa-biasa saja. Semuanya benar-benar frontal, dan mungkin akan membuat Anda miris saat menontonnya.

Serial ini pun sebenarnya menampilkan fakta masa kini, di mana banyak orang sudah sulit membedakan mana "panggilan Tuhan" dan mana "halusinasi" atau "delusi". Banyak orang keliru menganggap suara yang didengarnya sebagai "Suara Tuhan" lantaran dia menyimpan kepahitan dalam hatinya.

Meski demikian, serial ini patut diacungi jempol sebagai sebuah serial "religius" yang cukup berbobot. Dengan cara yang cukup ekstrim, kreator serial ini mengarahkan penonton untuk bisa belajar mendengar Suara dan Jamahan Tuhan. Tentunya mereka tidak mengharapkan penonton menjadi seekstrim Hakim Harris, namun justru menjadi alat Tuhan untuk menyebarkan Firman-Nya, menjadi orang yang menegakkan keadilan dan kebenaran, serta menjadi "penjala manusia" bagi-Nya. Anda hanya bisa menyaksikan serial ini jika Anda telah punya kedewasaan diri yang cukup matang, didukung dengan pikiran yang arif-bijaksana dalam menerima apa yang ditayangkan di serial ini.

Sebagai sebuah tontonan, serial ini sangat menghibur. Adegan di film itu benar-benar diperuntukkan untuk penontondewasa, sehingga tidak pantas ditonton anak-anak. Alur ceritanya pun - meski mudah dipahami tapi - sangat tidak umum, dan mengandung beberapa pelajaran Alkitabiah yang dimaknai dengan cara yang berbeda. Karena itu, tontonan ini harus dicermati dengan bijaksana dan direspon dengan sangat hati-hati.

Jumat, 12 Juni 2015

DO YOU BELIEVE? (2015)

Judul Film : Do You Believe? 
Sutradara : Jonathan M. Gunn
Pemeran : Ted McGinley, Mira Sorvino, Andrea Logan White, Lee Majors, Sean Astin
Tanggal Rilis : 20 Maret 2015
Durasi : 115 menit

"Demikian juga halnya dengan iman. Jika Iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2 : 17)

Nats ini merupakan pembuka dari film yang disebut sebagai film "Paling Inspiratif" di tahun 2015 ini. Ceritanya sendiri penuh kejutan yang tidak terduga. Adalah Pendeta Matthew (diperani Ted McGinley) yang suatu hari dikejutkan oleh pertanyaan seorang penginjil jalanan yang mempertanyakan iman sang Pendeta, ketika dia mencurahkan kekecewaannya pada Tuhan karena tidak punya anak. Pertanyaan itu kemudian menjadi sebuah kejadian berantai pada 10 orang di sekitar sang Pendeta :

1. JD (Lee Majors) dan Teri (Cybill Shepherd) : Sepasang suami-istri yang telah lanjut usia dan baru kehilangan anak perempuan tunggal mereka. Keduanya berjuang keras untuk berdamai dengan masa lalu dan menerima kehilangan itu.

2. Samantha (Mira Sorvino) : Seorang janda dengan satu orang anak bernama Lily (Makenzie Moss) yang hidup menggelandang di jalan.

3. Maggie (Madison Pettis) : seorang remaja muda yang hamil di luar nikah dan kabur dari rumah.

4. Carlos (Joseph Julian Soria) : seorang veteran perang yang mengalami Post-Traumatic Stress Disorder.

5. Lacy (Alexa PenaVega) : seorang gadis muda yang mengalami depresi, dan merindukan kasih sayang ayahnya yang tidak pernah didapatnya.

6. Pretty Boy (Shwayze) dan Kriminal (Senyo Amoaku) : dua orang saudara anggota gengster yang ingin bertobat, namun dikejar polisi. Untuk menyelamatkan diri, mereka terpaksa bersembunyi di dalam gereja yang sedang mengadakan kebaktian.

7. Dr Farell (Sean Astin) : seorang dokter yang sangat hebat dan tidak pernah gagal. Karena itu dia menjadi orang yang sangat angkuh.

8. Bobby (Liam Matthews) : seorang petugas medis yang berusaha menolong seorang korban pria yang sekarat. Ketika pria itu meninggal, Bobby justru dituntut oleh istri dan pengacara pria tersebut.

Meski kejadian yang dialami kesepuluh orang tersebut tidak saling berhubungan, namun tangan Tuhan yang ajaib justru menghubungkan mereka dengan Pastor Matthew dan istrinya, Grace (Tracy Melchior), menjadi sebuah rangkaian kejadian yang saling berkaitan dan berhubungan, yang pada akhirnya mengubah hidup mereka.

Film ini dengan indah menggambarkan rencana Tuhan pada masing-masing manusia, di mana setiap orang ada di dunia ini bukan tanpa alasan. Semua dipakai Tuhan untuk menjalankan rencana-Nya serta saling menguatkan satu dengan yang lain. Pada akhirnya film ini menantang para penonton, apakah mereka percaya pada kuasa Tuhan? Apakah mereka percaya kalau kehadiran mereka di dunia bukan kebetulan, tapi dipersiapkan Tuhan untuk sebuah rencana besar yang akan mengubah hidup banyak orang?

Film Do You Believe? tayang tanggal 20 Maret 2015 dan secara mengejutkan berhasil duduk di peringkat enam dalam Box Office Amerika, di bawah The Divergent Series : Insurgent, Cinderella, Run All Night, The Gunman, dan Kingsman : The Secret Service. Sangat jarang terjadi ada film bertema Kristiani yang bisa duduk dalam 10 Besar Box Office Film Amerika Serikat. So.... Do You Believe? 

  

HOLY GHOST (2014)


Judul Film : Holy Ghost
Sutradara : Darren Wilson
Pemain : Meredith Andrews, Heidi Baker, REginald Arvizu, DeVon Franklin Jake Hamilton
Tanggal rilis : 6 September 2014
Durasi : 113 menit

Mungkin jika sudah menonton film ini, Anda akan menganggap film ini hanyalah sebuah film dokumenter biasa yang tidak jauh berbeda dengan film dokumenter yang ada. Tapi jangan salah : Ini adalah film dokumenter yang luar biasa. Betapa tidak : Film ini dibuat tanpa skenario dan tanpa rencana sama sekali. Proses pembuatannya benar-benar mengikuti pengarahan Roh Kudus melalui doa dan puasa.

Darren Wilson - sang sutradara, sekaligus produser, dan editor film ini - ingin membuat sebuah film yang sepenuhnya diilhami oleh Roh Kudus, di mana dia ingin menampilkan sebuah film tentang keberadaan Roh Kudus dan menelusuri peran Roh Kudus dalam kehidupan orang Kristen di Amerika Serikat.

Berbekal uang sumbangan sebesar US$ 360 ribu, yang diterimanya dari para pendonor di situs Kickstarter, Darren Wilson dan teman-temannya berpetualang mengelilingi Amerika tanpa tujuan guna mencari hal-hal yang terinspirasi, tergerak, dan terubahkan oleh Roh Kudus. Dalam membuat film ini pun mereka sama sekali tidak membuat rencana apapun, dan semuanya mengikuti ke mana Roh Kudus menuntun.

Selain merekam tempat dan hal yang diubahkan oleh Roh Kudus, mereka pun mewawancarai banyak aktivis dan artis Kristen yang hidupnya diubahkan oleh Roh Kudus yang ada di dalam mereka. Beberapa orang terkenal yang mereka wawancara itu di antaranya Michael W. Smith, Jeremy Riddle, Kim Walker-Smith, Brian "Head" Welch, Gary Wilson, Mededith Andrews, Heidi Baker, DeVon Franklin, Jake Hamilton, Bill Johnson, dan lain-lain.


Film tersebut pertama kali ditayangkan di Festival Soul Survivor Summer 2014 dan mendapatkan respon yang sangat positif. Banyak orang yang tergerak hatinya pasca menonton film itu. bahkan tidak sedikit yang menyerahkan hidupnya untuk dipakai Tuhan memperluas Kerajaan-Nya.

Satu hal yang menarik dari film ini adalah secara finansial, film ini memang tidak sukses dan memberikan profit sedikit pun buat Darren Wilson dan teman-temannya. Namun keuntungan yang mereka raup lewat film ini adalah mereka berhasil memenangkan banyak jiwa lewat film sederhana yang mereka buat tersebut. Bukankah itu jauh lebih menguntungkan dari sejumlah uang?

Sukses film ini akan berlanjut, di mana bulan Agustus 2015 mendatang, Darren Wilson akan merilis sekuel filmnya berjudul Holly Ghost : Reborn. Film yang dibuat dengan format yang sama ini diharapkan akan lebih banyak memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.

Kamis, 11 Juni 2015

A.D. : THE BIBLE CONTINUES (2015)

Judul : A.D. : The Bible Continues
Sutradara : Ciaran Donnelly, Tony Mitchell, Brian Kelly, Rob Evans, Paul Wilmshurts
Pemeran  : Juan Pablo Di Pace, Chipo Chung, Babou Ceesay, Will Thorp
Tanggal tayang : 15 April - 21 Juni 2015
Total episode : 10 (42 - 45 menit per episode)

Setelah serial televisi The Bible sukses tayang pada tahun 2013, maka tahun ini, serial televisi A.D. : The Bible Continues dirilis. Uniknya, meski merupakan "sekuel" dari The Bible, serial A.D. : The Bible Continues tidak ditayangkan di stasiun televisi History Channel, namun ditayangkan di jaringan NBC. Selain itu, semua pemeran di serial A.D. : The Bible Continues adalah orang baru semua. Satu-satunya "penghubung" antara seri The Bible dan sekuelnya adalah kreator serta penulis naskah cerita serial ini masih orang yang sama : Roma Downey dan Mark Burnett.

Berbeda dengan serial The Bible yang mengetengahkan cerita dari Perjanjian Lama (Kitab Kejadian) sampai Perjanjian Baru (Kitab Wahyu), maka di serial A.D. : The Bible Continues, keseluruhan ceritanya merupakan adaptasi dari Kitab Para Rasul saja.

Serial ini diawali dengan adegan proses penyidangan terhadap Yesus (Juan Pablo Di Pace) di hadapan Iman Besar Kayafas (Richard Coyle), yang kemudian berlanjut dengan Yesus dibawa ke Pontius Pilatus (Vincent Regan). Demi menjaga kedamaian dan memuaskan keinginan masyarakat, Pilatus memerintahkan untuk menyalibkan Yesus. Saat penyaliban Yesus, Kayafas meminta Pilatus memastikan kalau Yesus benar-benar mati di kayu salib.

Sementara itu, Yoseph Arimathea (Kevin Doyle) - yang juga seorang Imam seperti Kayafas - tidak setuju dengan sikap Kayafas terhadap Yesus. Maka saat penyaliban Yesus, dia meminta Pilatus untuk menyerahkan mayat Yesus padanya agar dimakamkan di tempat penguburannya. Tindakan Yoseph Arimathea justru mengundang amarah Kayafas karena Yoseph melakukan hal itu seolah-olah berusaha menggenapi apa yang tertulis di Kitab Yesaya. Tindakan itu dikuatirkan akan menimbulkan gelombang pemberontakan dari orang-orang yang pro-Yesus.

Di lain pihak, Petrus (Adam Levy) didekati Boaz (George Georgiou) - sahabat masa kecilnya - untuk diajak bergabung melawan Pasukan Romawi. Petrus menolak menggunakan Cara Pedang dalam menghadapi Pasukan Romawi, dan memilih menggunakan Cara Kasih seperti yang Kristus ajarkan padanya dan para murid yang lain.

Tiga hari kemudian, Yesus Kristus bangkit dari kubur dan menemui Maria (Greta Scacci) dan para murid-Nya. Kebangkitan-Nya itu kemudian merubah iman para murid dan membuat mereka semakin bersemangat untuk mengabarkan Injil. Namun perjuangan mereka tidaklah mudah, karena Kayafas berhasil mempengaruhi Gubernur Pilatus untuk menghabisi para pengikut Yesus. Lalu muncul Saulus dari Tarsus (Emmet J. Scanlan) yang tidak percaya pada Yesus dan bersumpah untuk menangkapi semua pengikut Yesus. Serial ini berakhir dengan bertobatnya Saulus dan mengubah namanya menjadi Paulus, kemudian bersama Petrus serta pengikut Yesus yang lain melakukan pengabaran Injil.

Dibandingkan serial The Bible, A.D. : The Bible Continues jauh lebih seru dan menegangkan. Alurnya sangat cepat. Intrik yang disajikan pun sangat menarik dan berlangsung sangat cepat. Harus diakui kalau banyak sekali adegan dalam serial ini berbeda dengan apa yang tertulis di Alkitab. Meski demikian, kalau diperhatikan secara keseluruhan, konteksnya tidak berbeda dengan yang tertulis di Alkitab.

Serial ini mendapatkan respon yang sangat positif dari para penonton. Episode pertama ditonton 9.68 juta penonton Amerika Serikat. Seri-seri berikutnya rata-rata ditonton sekitar 7-8 juta penonton. Hal ini membuktikan kalau serial televisi bertema agama seperti ini masih diminati oleh para penonton. Bahkan masih banyak orang yang haus akan kebenaran Firman Tuhan, sehingga butuh penyegaran melalui film-film seperti ini.


ABOUT "THE BIBLE"
Serial televisi The Bible adalah serial televisi yang tayang 3 - 31 Maret 2013 di Saluran Televisi History Channel. Dibuat dengan dana total US$ 22 juta, serial yang dikemas menjadi 10 episode ini mengetengahkan cerita mulai dari Kitab Kejadian (Perjanjian Lama) hingga Kitab Wahyu (Perjanjian Baru).

Ide pembuatan serial ini telah digelontorkan Roma Downey dan Mark Burnett sejak tahun 2010, karena mereka ingin mengingatkan kembali kepada Generasi Masa Kini tentang "Pengharapan Terbesar" yang ada di Alkitab. Mereka pun ingin Generasi Kini menyadari kalau Alkitab bukanlah kumpulan cerita yang berdiri sendiri, namun merupakan kesatuan yang tidak terputus yang menjadi pernyataan Cinta Terbesar Allah Tuhan kepada umat-Nya.

Episode pertama seri The Bible ditonton 13.1 juta penonton Amerika Serikat, dan menjadikannya sebagai serial televisi kabel dengan penonton terbanyak sepanjang tahun 2013. Seri-seri berikutnya ditonton rata-rata 8 - 10 juta penonton, dan membukukannya sebagai Serial Televisi dengan Rating Tertinggi dengan Penonton Lebih dari 100 juta orang di tahun 2013.

Salah satu bagian dari serial tersebut - tentang kehidupan Yesus Kristus - kemudian dikembangkan dan dirilis dalam bentuk layar lebar dengan judul Son Of God yang dirilis tahun 2014. Sedangkan untuk menanggapi respon penonton yang sedemikian positif, maka pada tahun ini, sekuel The Bible - berjudul A.D. : The Bible Continues - dirilis dan ditayangkan di stasiun televisi NBC.



DO YOU KNOW? 
Banyak stasiun televisi yang sangat tertarik dengan skenario The Bible buatan Downey dan Burnett. Masalahnya semua stasiun televisi tersebut meminta mereka untuk menghilangkan cerita tentang Yesus Kristus. Hanya History Channel saja yang setuju mendanai serial itu dibuat dengan utuh, lengkap dengan kisah kehidupan Yesus Kristus. Karena itulah serial itu kemudian diproduksi dan ditayangkan History Channel.


Untuk membuat skenario The Bible menjadi sebuah rangkaian cerita yang saling bersinergi dan berhubungan, Downey dan Burnett meminta nasihat dan masukan dari banyak pemuka agama Kristen, Katolik Roma, dan Yahudi terkemuka di dunia. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah : Geoff Tunnicliffe (World Evangelical Alliance), Rick Warren (Pastor Gereja Saddleback), Erwin McManus (Pastor Gereja Mosaic), Bobby Gruenewald (Ketua YouVersion Bible), Leith Anderson (Presiden National Association of Evangelicals), Frank Wright (Presiden National Religious Broadcasters), George Wood (Ketua General Council of the Assemblies of God in the United States of America), Craig Groeschel (Life Church), dam Denny Rydberg (Young Life).

Beberapa hari sebelum seri perdana The Bible dirilis di televisi, Downey dan Burnett menulis sebuah artikel di The Wall Street Journal yang meminta kepada Departemen Pendidikan Amerika Serikat untuk dapat menjadikan Pendidikan Alkitab sebagai Pelajaran Wajib di sekolah umum Amerika Serikat. Menurut mereka, "Alkitab merupakan dasar utama dari pengetahuan dunia masa lalu yang menjelaskan apa yang terjadi di dunia masa kini."

Untuk mencegah perdebatan saat serial A.D. : The Bible Continues ditayangkan di televisi, Palam Fidelis Publishing merilis traktat yang berisi penjelasan tentang Kitab Para Rasul. Mereka pun membuka forum "Diskusi Keluarga" bagi siapapun yang ingin mendiskusikan isi setiap episode dari serial tersebut.






WHERE WAS GOD? STORY OF HOPE AFTER THE STORM (2015)


Judul Film : Where Was God? Story of Hope After The Storm
Sutradara : Travis Palmer
Tanggal Rilis : 2 Juni 2015
Durasi : 86 menit

"Di manakah Tuhan?"

Itu adalah pertanyaan yang biasa kita lontarkan kepada Tuhan, ketika masalah bertubi-tubi menghantam. Kita kemudian kecewa, putus asa, dan pada akhirnya meninggalkan Dia. Benarkah Tuhan tidak ada ketika masalah datang menghajar kita? Benarkah Tuhan telah meninggalkan kita? Apakah hidup memang sudah tidak ada harapan lagi?

Mungkin film ini akan bisa menjawab, kemanakah Tuhan saat masalah menghantam kita.

Film dokumenter ini mengetengahkan kejadian sebenarnya yang terjadi di Moore, Oklahoma, Amerika Serikat pada tanggal 20 Mei 2013. Kejadian yang dikenal dengan sebutan "2013 Moore Tornado" itu terjadi di siang hari di mana tornado berukuran EF5 (Enchanted Fujita-5 : level serangan Tornado tertinggi. Tornado level ini menerjang dengan kecepatan di atas 322 kilometer perjam, berkekuatan destruktif, mampu menghancurkan gedung, termasuk bangunan berkonstruksi baja, bahkan dapat menerbangkan mobil, truk, dan kereta api hingga jarak 1.6 kilometer).

Bencana alam ini menghancurkan 1,150 rumah, mencederai 377 orang, serta menewaskan 24 orang. Tornado ini juga menghancurkan Sekolah Dasar Briarwood dan Plaza Towers Elementary School. Tujuh siswa dari sekolah Plaza Towers tewas dan sebagian staf pengajar sekolah luka parah tertimpa bangunan sekolah yang rubuh.

Dokumenter ini memperlihatkan banyak adegan mengharukan pasca bencana tornado : Para guru yang berjuang menyelamatkan anak didiknya yang tertimpa gedung sekolah yang runtuh, seorang pria yang terluka parah namun masih berusaha menolong seorang anak yang terjepit di dalam gedung, orang tua yang menangis menyaksikan jasad anaknya yang sudah tidak bernyawa. Saya yakin, hati Anda terasa sangat pilu melihat kejadian tersebut.

Namun di sisi lain, Anda diperlihatkan pula begitu banyak orang yang tiba-tiba bertobat dan menjadi pahlawan dalam bencana itu : Sepasang suami-istri yang sudah lama berjuang dari pengaruh narkoba. Seorang polisi yang mendapatkan pencerahan setelah dirundung kesedihan akibat kematian anaknya yang menderita kanker. Serta bagaimana seorang pastor yang menemukan makna keselamatan setelah kehilangan istrinya yang sakit keras, namun berhasil menyelamatkan banyak orang dari bencana tersebut.

Di dalam kehilangan dan penderitaan, banyak orang menemukan pengharapan dari pertolongan orang-orang di sekitar. Mereka bahkan menjadi pengharapan dan berkat bagi orang lain yang jauh lebih menderita. Bencana yang datang, tidak lantas menghancurkan hidup orang-orang di Oklahoma, namun justru menyadarkan mereka akan kehadiran Tuhan, dan bagaimana Tuhan ingin memakai mereka menjadi orang-orang yang bisa menjadi berkat, garam, dan terang bagi orang lain. Film ini dipenuhi banyak adegan mengharukan, yang dipastikan dapat membuat Anda menangis (minimal meneteskan air mata).

Where Was God? mengajarkan kita untuk memiliki Iman yng lebih teguh kepada Tuhan. Kadang dalam masalah yang dihadapi, kita selalu berharap Tuhan datang dan menolong kita dengan cara supranatural-Nya. Padahal di dalam setiap masalah yang kita hadapi, Tuhan selalu ada untuk kita. Dia menolong dengan cara-Nya yang ajaib. Bahkan di dalam masalah kita tersebut, Dia ingin membentuk kita menjadi orang-orang yang bisa jadi berkat, garam, dan terang bagi orang lain, agar nama-Nya dipermuliakan.

Film ini adalah film dokumenter, di mana orang-orang yang terlibat dalam film ini adalah orang-orang yang benar-benar mengalami sendiri bencana Moore Tornado, dan membagikan pengalaman mereka kepada kita semua.