Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2018

God Friended Me (2018 - onward)


Judul TV Seri      : God Friended Me
Ditayangkan     : CBS
Pemeran      : Brandon Micheal Hall, Violett Beane, Javicia Leslie, Suraj Sharma
Tanggal tayang       : 30 September 2018
Total episode          : 10 

Bagi pengguna jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, maupun grup WhatsApp, tentu sudah menjadi hal jamak jika melihat status "friend" kita yang berisi doa atau keluhan kepada Tuhan. Kadang kita - termasuk saya - jengkel juga, karena status itu terkesan lebay (padahal kalo dipikir-pikir lagi, itu status orang lain, kenapa saya yang kepo ya? Hehehe....). Selain itu, jelas-jelas Tuhan tidak ada dalam daftar "friend" di jejaring sosial, ngapain ngeluh dan "berdoa" di sana?

Mungkin hal ini yang kemudian menjadi ide terciptanya serial drama-komedi keluaran jaringan televisi CBS ini. Serial bertotal 10 episode ini cukup menggelitik, karena merupakan sindiran bagi orang-orang yang tidak percaya Tuhan dan terlalu lama bergaul dengan gadget.

Serial God Friended Me tidak hanya berisi pesan sarkastis tentang kondisi manusia sekarang, namun juga eksplorasi iman seseorang. Tuhan tidak selalu menggunakan orang-orang yang percaya pada-Nya untuk menjalankan misi-Nya, tetapi Tuhan pun bisa menggunakan orang-orang yang tidak percaya padanya.

Dalam serial ini, Miles Finer (Brandon Micheal Hall) adalah anak dari seorang Pendeta. Meski ayahnya adalah pendeta yang sangat dihormati, Miles sendiri tidak percaya Kristus dan memilih menjadi seorang ateis. Sebagai seorang DJ dan Penyiar Radio, Miles menggunakan berbagai kesempatan untuk mencela Tuhan dan menyatakan ketidak-percayaannya pada Dia.

Satu ketika - saat sedang membuka akun Facebook - dia mendapat permintaan pertemanan (Friend Request) dari "Tuhan" (God). Awalnya dia mengira ajakan pertemanan ini hanyalah hoax, karena itu dia mengabaikannya.

Tetapi ajakan pertemanan itu terus-menerus muncul. Bahkan "Tuhan" kemudian memberikan Miles beberapa petunjuk dan memintanya untuk mengikuti petunjuk itu. Rupanya petunjuk yang diberikan Tuhan merupakan petunjuk untuk menyelamatkan seseorang yang berniat bunuh diri dengan meloncat ke rel kereta bawah tanah. Sebelum orang tersebut bunuh diri, Miles berhasil menyelamatkannya.

Selanjutnya Miles banyak mendapatkan petunjuk-petunjuk dari "Tuhan" via Facebook yang memintanya untuk menolong orang. Meski awalnya masih beranggapan kalau semua itu hanyalah tindakan iseng teman-temannya, namun lama-kelamaan iman Miles goyah. Meski masih memegang teguh keateisannya, tetapi dia mulai mengakui kalau Tuhan itu ada, dan ingin dia berbuat sesuatu untuk sesama.

Serial God Friended Me merupakan sebuah serial televisi rohani yang dirilis oleh jaringan televisi CBS, yang sebelumnya tidak pernah merilis acara bertema rohani sekalipun. Kemunculan serial ini di jaringan televisi sekuler, menunjukkan bahwa banyak orang sebenarnya haus dengan hal bersifat kerohanian. Mereka sudah lelah dengan kondisi dunia masa kini, dan butuh pertolongan. Sayangnya, di dunia milenial seperti sekarang, orang cenderung memilih bergaul dan mencari pertolongan di dunia maya. Bahkan berdoa pun dilakukan di jejaring sosial, seolah-olah Tuhan ada di sana.

Serial ini sepertinya menjawab "doa" banyak orang, jika Tuhan benar-benar ada di jejaring sosial, apakah Anda akan mempercayai keberadaan-Nya? Apakah Anda akan mau mendengar kata-kata-Nya? Apakah Anda mengimani diri-Nya? Apakah mau bekerja bagi-Nya?

Kemunculan serial ini juga merupakan sebuah bentuk keprihatinan terhadap iman Generasi Milenial yang makin hari makin menurun. Banyak kaum milenial yang memilih tidak beragama, meski ber-rohani (spiritual). Serial ini mengingatkan kembali kepada Generasi Milenial tentang siapa Kristus dan siapa Tuhan yang harus kita sembah.

Sebagai hiburan, God Friended Me adalah sebuah serial yang menarik untuk ditonton sekeluarga, terutama para remaja.

Minggu, 18 Oktober 2015

THE COKEVILLE MIRACLE (2015)

Judul Film : The Cokeville Miracle
Sutradara : T.C. Christensen
Pemeran : Nathan Stevens, Jasen Wade, Caitlin E.J. Meyer
Tanggal Rilis : 5 Juni 2015


Tanggal 16 Mei 1996 silam, terjadi kejadian yang cukup menegangkan di Sekolah Dasar Cokeville (Cokeville Elementary School) yang terletak di Cokeville, Wyoming, Amerika Serikat. Pada tanggal tersebut, seorang mantan petugas keamanan kota tersebut bernama David Young dan istrinya (Doris Young) menyandera 136 anak-anak dan 18 orang dewasa di sekolah tersebut. Dalam menjalankan aksinya, David memasang bom di sekolah dan berencana untuk membunuh semua anak dan guru di sekolah tersebut.

Tidak jelas apa tujuan Young melakukan hal itu. Spekulasi yang beredar adalah Young ingin mendirikan Dunia Baru (Brand New World) dan mencanangkan revolusi manusia, dimulai dari sekolah itu.

Meski bom yang dipasang Young meledak di sekolah itu, secara ajaib tidak seorang murid dan guru pun yang tewas dalam ledakan itu. Sesaat setelah bom yang dipasangnya meledak, Young membunuh istrinya, lalu bunuh diri di tempat kejadian.

Insiden ini menarik perhatian sineas T.C. Christensen yang kemudian mereka ulang kejadian itu ke dalam film produksinya : The Cokeville Miracle. Film yang dirilis tanggal 5 Juni 2015 silam tersebut mendapat sambutan yang hangat dari penonton.

Christensen yang biasanya membuat film-film bertemakan ajaran Latter-Day Saint (LDS) seperti 17 Miracles dan Ephraim's Rescue, mendapat pujian karena mengangkat tema cerita yang sangat berbeda dari biasanya. Alurnya dibuat tidak tampak sebagai film rohani, tapi justru sama seperti film-film komersil pada umumnya. Tidak heran kalau film ini kemudian mendapat kesempatan untuk tayang di bioskop besar yang biasa menayangkan film-film komersil.

Dengan menggunakan alur yang sama dengan kejadian sebenarnya, film ini diawali dengan pergumulan iman Ron Hartley (Jasen Wade) - seorang polisi di Cokeville - yang mulai meragukan keberadaan Tuhan setelah melihat banyak kejahatan sadis di sekitar kota. Hal ini menimbulkan ketegangan antara Hartley dan keluarganya. Dia kemudian meminta tanda, apakah Tuhan masih benar-benar ada dan dia minta penguatan pada imannya.

Jawaban Tuhan benar-benar di luar dugaan. Tidak lama berselang, David Young (Nathan Stevens) dan istrinya, Doris Young (Kymberly Mellen), menyandera murid-murid dan guru di Sekolah Dasar Cokeville. Mereka meminta tebusan US$ 200 juta kepada Pemerintah Kota Cokeville. Jika permintaan mereka tidak ditanggapi, maka sekolah akan diledakkan. Untuk membuktikan ucapannya bukan isapan jempol, Young kemudian memasang bom di seluruh bagian sekolah. Di tengah ketakutan mereka, para guru meminta murid-muridnya untuk berdoa bersama di dalam kelas, meminta pertolongan dari Tuhan.

Keajaiban terjadi. Ketika David keluar dari kelas, secara tidak sengaja Doris menekan tombol pemicu bom, yang menyebabkan bom meledak. Ajaibnya, tidak satu pun murid dan guru yang tewas dalam ledakan tersebut. Mereka hanya terluka, dan langsung mendapat pertolongan polisi. Tidak mau masuk penjara, David kemudian membunuh istrinya, kemudian bunuh diri. Lewat kejadian ini, iman Hartley dikuatkan. Dia pun menyadari begitu besar kuasa Tuhan yang turut campur tangan dalam kejadian itu, sehingga meski terkena bom, namun semua sandera selamat.

Film ini memiliki banyak elemen yang baik dan di atas rata-rata film Rohani pada umumnya. Alurnya sangat cepat. Penuh aksi yang tegang, sehingga durasi film yang 93 menit terasa berlalu dengan sangat cepat. Selain itu, film ini cukup ringan (tidak membahas konsep teologi rumit seperti film God's Not Dead) sehingga sangat asyik untuk ditonton. Secara umum, film ini sangat berhasil menjalankan misinya sebagai sebuah tontonan ringan yang memberikan penguatan, terutama bagi orang-orang yang imannya sudah mundur.



DO YOU KNOW? 
Sutradara T.C. Christensen meminta Nathan Stevens - pemeran David Young - untuk tidak berinteraksi dengan anak-anak pemeran siswa sekolah Cokeville selama proses pembuatan film. Cara ini cukup ampuh. Saat shooting berlangsung, anak-anak menjadi takut pada Nathan. Reaksi yang mereka tampilkan di film adalah reaksi ketakutan yang sebenarnya, bukan akting.

Shooting film ini dilakukan di Sekolah Dasar Whitesides yang terletak di Layton, Utah, Amerika Serikat. Ada tiga alasan mengapa sekolah tersebut dipilih : Pertama, Sekolah Dasar Whitesides memiliki kemiripan struktur dan fisik sekolah dengan Cokeville. Kedua, di sekitar Whitesides terdapat banyak hotel, restoran, dan infrastruktur yang sangat membantu proses pembuatan film. Dan yang ketiga : Christensen adalah lulusan dari Sekolah Dasar Whitesides.

Selain film The Cokeville Miracle, insiden pengeboman Sekolah Dasar Cokeville ini pun juga dibuat dalam versi film-televisi berjudul To Save the Children (2006) dan ditulis dalam buku berjudul The Cokeville Miracle : When Angels Intervene yang ditulis oleh Hartt Wixon dan istrinya, Judene (buku tersebut diterbitkan oleh Cedar Fort Inc.).




Kamis, 11 Juni 2015

WHERE WAS GOD? STORY OF HOPE AFTER THE STORM (2015)


Judul Film : Where Was God? Story of Hope After The Storm
Sutradara : Travis Palmer
Tanggal Rilis : 2 Juni 2015
Durasi : 86 menit

"Di manakah Tuhan?"

Itu adalah pertanyaan yang biasa kita lontarkan kepada Tuhan, ketika masalah bertubi-tubi menghantam. Kita kemudian kecewa, putus asa, dan pada akhirnya meninggalkan Dia. Benarkah Tuhan tidak ada ketika masalah datang menghajar kita? Benarkah Tuhan telah meninggalkan kita? Apakah hidup memang sudah tidak ada harapan lagi?

Mungkin film ini akan bisa menjawab, kemanakah Tuhan saat masalah menghantam kita.

Film dokumenter ini mengetengahkan kejadian sebenarnya yang terjadi di Moore, Oklahoma, Amerika Serikat pada tanggal 20 Mei 2013. Kejadian yang dikenal dengan sebutan "2013 Moore Tornado" itu terjadi di siang hari di mana tornado berukuran EF5 (Enchanted Fujita-5 : level serangan Tornado tertinggi. Tornado level ini menerjang dengan kecepatan di atas 322 kilometer perjam, berkekuatan destruktif, mampu menghancurkan gedung, termasuk bangunan berkonstruksi baja, bahkan dapat menerbangkan mobil, truk, dan kereta api hingga jarak 1.6 kilometer).

Bencana alam ini menghancurkan 1,150 rumah, mencederai 377 orang, serta menewaskan 24 orang. Tornado ini juga menghancurkan Sekolah Dasar Briarwood dan Plaza Towers Elementary School. Tujuh siswa dari sekolah Plaza Towers tewas dan sebagian staf pengajar sekolah luka parah tertimpa bangunan sekolah yang rubuh.

Dokumenter ini memperlihatkan banyak adegan mengharukan pasca bencana tornado : Para guru yang berjuang menyelamatkan anak didiknya yang tertimpa gedung sekolah yang runtuh, seorang pria yang terluka parah namun masih berusaha menolong seorang anak yang terjepit di dalam gedung, orang tua yang menangis menyaksikan jasad anaknya yang sudah tidak bernyawa. Saya yakin, hati Anda terasa sangat pilu melihat kejadian tersebut.

Namun di sisi lain, Anda diperlihatkan pula begitu banyak orang yang tiba-tiba bertobat dan menjadi pahlawan dalam bencana itu : Sepasang suami-istri yang sudah lama berjuang dari pengaruh narkoba. Seorang polisi yang mendapatkan pencerahan setelah dirundung kesedihan akibat kematian anaknya yang menderita kanker. Serta bagaimana seorang pastor yang menemukan makna keselamatan setelah kehilangan istrinya yang sakit keras, namun berhasil menyelamatkan banyak orang dari bencana tersebut.

Di dalam kehilangan dan penderitaan, banyak orang menemukan pengharapan dari pertolongan orang-orang di sekitar. Mereka bahkan menjadi pengharapan dan berkat bagi orang lain yang jauh lebih menderita. Bencana yang datang, tidak lantas menghancurkan hidup orang-orang di Oklahoma, namun justru menyadarkan mereka akan kehadiran Tuhan, dan bagaimana Tuhan ingin memakai mereka menjadi orang-orang yang bisa menjadi berkat, garam, dan terang bagi orang lain. Film ini dipenuhi banyak adegan mengharukan, yang dipastikan dapat membuat Anda menangis (minimal meneteskan air mata).

Where Was God? mengajarkan kita untuk memiliki Iman yng lebih teguh kepada Tuhan. Kadang dalam masalah yang dihadapi, kita selalu berharap Tuhan datang dan menolong kita dengan cara supranatural-Nya. Padahal di dalam setiap masalah yang kita hadapi, Tuhan selalu ada untuk kita. Dia menolong dengan cara-Nya yang ajaib. Bahkan di dalam masalah kita tersebut, Dia ingin membentuk kita menjadi orang-orang yang bisa jadi berkat, garam, dan terang bagi orang lain, agar nama-Nya dipermuliakan.

Film ini adalah film dokumenter, di mana orang-orang yang terlibat dalam film ini adalah orang-orang yang benar-benar mengalami sendiri bencana Moore Tornado, dan membagikan pengalaman mereka kepada kita semua. 

Senin, 25 Mei 2015

A BOX OF FAITH (2015)

Judul Film : A Box of Faith (2015)
Sutradara  : Auturo Gavino
Pemeran : Savanah McMahon, Julie Van Lith, Bill Wetherill
Tanggal rilis : 12 Mei 2015
Durasi : 89 menit


Satu kata yang muncul dari mulut saya saat usai menyaksikan film ini : Mengharukan.

Ya.... film ini membawa pesan yang sangat mengharukan, tentang bagaimana kekosongan hati seseorang yang ditinggal pergi orang yang dikasihinya. Dior (diperani dengan sangat baik oleh Savanah McMahon), adalah seorang gadis remaja 16 tahun yang sangat mengasihi kedua orang tuanya. Dia pun adalah seorang remaja yang percaya dan patuh pada Kuasa dan Kemuliaan Tuhan.

Kebahagiaannya tidak berlangsung lama, karena dia harus kehilangan ibunya yang meninggal karena kanker. Dia pun harus berpisah dengan ayahnya yang harus dipenjara karena melakukan sebuah kesalahan yang tidak disengajanya di tempat kerja. Maka tinggallah Dior remaja yang sendirian. Dalam kesendiriannya ini, dia belajar bahwa Tuhan ingin Dior lebih dekat dengan-Nya. Karena itu, ketika seorang pekerja sosial bernama Ms Ward (Julie Van Lith) berniat membawanya ke panti asuhan, Dior kabur dan bersembunyi di tempat kos ayahnya. Dia sangat percaya bahwa Tuhan akan menjaga dan menghidupinya, sehingga dia tidak butuh bantuan siapapun sama sekali.

Ms Ward yang penuh kasih sayang, mencoba mendekati Dior, namun selalu gagal. Dior kemudian mulai membuka diri dengan meninggalkan surat kecil yan diselipkannya di kaca mobil Ms Ward. Mengetahui Dior sudah mulai membuka hati padanya, Ms Ward kemudian merespon surat Dior dengan membalas surat tersebut dan memberikannya uang. Dior - yang tetap yakin akan pertolongan Tuhan - justru memberikan uang itu pada gelandangan, sehingga dia diperalat Emma (Laura Van Lith), seorang gelandangan yang berniat memeras Dior.

Berkat doa Dior yang tiada henti, Tuhan akhirnya membuka jalan padanya. Ayahnya yang ditahan, terbukti tidak bersalah, sehingga dia terbebas dari penjara. Namun bukan hanya mujizat itu saja yang Tuhan berikan pada Dior. Masih banyak lagi berkat-berkat tak terduga yang Dior dapatkan sebagai bentuk dari kesetiaannya pada Tuhan. Apa sajakah itu?

Film ini sungguh sebuah film yang indah karena menampilkan plot yang indah tentang penguatan setelah kehilangan, dan bagaimana iman dapat mengubah banyak hal.

Pada saat Anda sedang kehilangan, sedang mengalami penderitaan yang sangat, maka film ini adalah sebuah pilihan terbaik yang wajib Anda tonton.

Jumat, 17 April 2015

PRISONERS

Judul Film     : Prisoners
Sutradara       : Denis Villeneuve
Pemeran        : Hugh Jackman, Jake Gyllenhall, Viola Davis, Maria Bello, Terrence Howard
Durasi           : 153 menit
Tanggal edar : 20 September 2013

Film drama-thriller ini bisa saya katakan sebagai film yang sangat emosional. Mengharukan. Menegangkan. Sekaligus pula bikin penasaran dan penuh kejutan. Ceritanya terbilang cukup kompleks, tapi tidak rumit.

Dikisahkan dua keluarga - pasangan Keller Dover (Hugh Jackman) dan Grace (Maria Bello) dengan tetangganya Franklin (Terrence Howard) dan Nancy Birch (Viola Davis) - sedang mengadakan pesta Thanksgiving di rumah. Dalam suasana meriah itu, tiba-tiba kedua anak perempuan mereka yang masih kecil - Anna Dover (Ertin Gerasimovich) dan Joy Birch (Kyla Drew Simmons) - menghilang. Pencarian dilakukan di sekitar lingkungan rumah mereka, namun sia-sia.

Kedua keluarga itu kemudian menghubungi polisi. Adalah Detektif David Loki (Jake Gyllenhaal) yang turun tangan menangani kasus ini.Dalam waktu beberapa jam, mereka berhasil menemukan seorang pengendara kendaraan yang diduga mengetahui keberadaan kedua anak tersebut. Sang pengendara, Alex Jones (Paul Dano), ternyata adalah seorang remaja dengan intelengesi di bawah seratus dan bertingkah layaknya anak berusia 10 tahun. Setelah diinterogasi, polisi tidak menemukan adanya keterkaitan Alex dengan hilangnya kedua anak itu.

Namun Keller sangat yakin jika Alex adalah pelakunya. Terlebih ketika Alex dibebaskan - dan disantroni Keller di depan kantor polisi - dia berbisik pada Keller kalau "Mereka tidak menangis saat aku meninggalkan mereka" (They didn't cry until I left them). Petunjuk ini membuat Keller sangat yakin kalau Alex adalah pelakunya, dan tahu di mana anaknya disekap.

Keller kemudian menculik Alex dan menyiksanya. Namun betapa hebatnya Keller menyiksa Alex, tidak ada petunjuk apapun yang keluar dari mulut Alex.

Sementara itu, Detektif Loki mengalami kesulitan mengungkap kasus ini, karena semakin dalam dia menggali kasus ini, semakin tampak mustahil kasus ini diselesaikan. Dan tanpa sengaja, dia menemukan fakta-fakta baru, yang membawanya membongkar kasus-kasus serupa yang pernah terjadi 10 tahun silam. Film ini pun diakhiri dengan "happy ending" dan kejutan yang tidak terduga.

Banyak sekali adegan emosional yang ditampilkan di film berdurasi 2.5 jam ini. Penonton disuguhkan akting gemilang Hugh Jackman yang berperan sebagai seorang ayah, yang penuh penyerahan diri kepada Tuhan dalam pencarian anaknya. Meski anaknya hilang, namun dia tetap yakin kalau Tuhan akan menjaga dan dengan iman, dia terus mencari anaknya yang hilang itu. Perjuangannya pun akhirnya membuahkan hasil, meski nyawanya menjadi taruhan.

Sebagai sebuah hiburan, film ini menyuguhkan sebuah tontonan yang sangat menguras emosional, karena penuh dengan adegan yang mengharukan, mengejutkan, menegangkan, dan penuh misteri. Dalam peredarannya di Amerika Serikat, film yang dibuat dengan dana US$ 46 juta ini berhasil meraup keuntungan finansial hingga US$ 122 juta. Selain itu, film ini pun mendapatkan respon yang sangat baik dari para kritikus film dunia. Serta menjadi nominasi penghargaan internasional seperti Toronto International Film Festival 2013 dan Hollywood Film Festival 2013.



TENTANG "MISOTEISME"
Di balik ketegangan dan keseruan film Prisoners, sebenarnya ada konteks Injili yang ingin diangkat oleh Sutradara film, yaitu konteks tentang "Misoteisme". Ajaran apa itu?

Misoteisme adalah aliran "Membenci Tuhan". Aliran ini ternyata sedang sangat marak terjadi dan menyebar di seluruh dunia. Ajaran ini muncul sebagai bentuk kekecewaan banyak orang pada Tuhan yang - menurut mereka - sudah tidak lagi perduli dan meninggalkan mereka. Akibatnya banyak orang meninggalkan imannya dan memilih menjadi orang-orang yang membenci Tuhan dan sengaja melakukan hal yang tidak berkenan pada-Nya.

Kata "Misoteisme" sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu "Misos" (Benci) dan "Theos" (Tuhan). Istilah ini dikenal dan muncul pertama kali dalam literatur Islandia berjudul "Islendingasogur" atau "The Saga of Icelanders" yang terbit pada abad 10 Sesudah Masehi. Dalam tulisan itu, Hrafnkell - tokoh utama cerita tersebut - menyebutkan penyangkalannya pada Tuhan setelah melihat Kuilnya di Freyr dibakar dan dia menjadi budak negerinya sendiri.

Selain Misoteisme, konsep teologi lain yang mirip dengannya adalah Distheisme, di mana konsep ini mengajarkan kalau Tuhan tidak sepenuhnya baik. Bahkan bisa jadi Tuhan adalah Sang Iblis sendiri.

Banyak orang berpikir kalau baik Misoteisme maupun Distheisme adalah kepercayaan masing-masing pribadi, yang tidak akan mengganggu orang lain. Tapi faktanya, kedua ajaran ini sebenarnya sangat berbahaya karena dapat merusak iman banyak orang.

Seperti yang ditampilkan dalam film Prisoners, pelaku kejahatan dikisahkan adalah orang yang sangat patuh dan taat pada Tuhan, serta melakukan semua firman-Nya. Bahkan dia pun menyerahkan seluruh hidupnya untuk mendirikan Kerajaan Tuhan. Tapi imannya berubah total ketika anaknya meninggal karena Kanker. Kecewa dengan Tuhan, dia kemudian menculik dan membunuh anak-anak orang beriman, membuat mereka juga kehilangan iman kepada Tuhan, dan melakukan hal serupa seperti yang dilakukannya.

Aliran Misoteisme adalah sebuah kepercayaan yang sangat berbahaya, di mana orang yang telah kehilangan imannya pada Tuhan, kemudian menyebarkan kebenciannya pada Tuhan lewat cara yang ekstrim. Tidak hanya itu, mereka pun dengan mudah dapat dihasut untuk mempercayai ajaran-ajaran baru yang bersifat destruktif, karena orang seperti ini sangat "puas" dapat menyakiti hati Tuhan yang telah mengecewakan mereka. Dan jika Anda tidak percaya dengan fakta ini, coba renungkan : Mengapa banyak orang sedemikian mudah tertarik ikut organisasi ISIS, padahal mereka tahu kekejaman yang dilakukan kelompok itu?

Film ini mengajarkan kepada kita, orang-orang beriman, agar tetap bisa menjaga hati dan terus mempertahankan iman kita. Segala bencana, sakit-penyakit, kehilangan, kekecewaan, dan hal buruk seringkali diijinkan Tuhan, bukan karena Dia sengaja melakukannya atau telah meninggalkan umat-Nya. Tapi justru segala hal itu terjadi karena Dia ingin umat-Nya menjadi lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih siap dengan hal-hal yang lebih buruk lagi terjadi di depan. Sebab, akan datang bagi kita semua Mesias dan Nabi Palsu yang akan mendatangkan tanda dasyat dan mujizat yang akan menyesatkan orang-orang (Matius 24:24).

Apabila banyak orang masih punya iman pada Tuhan, maka Mesias dan Nabi Palsu itu tidak akan sanggup menyesatkan mereka. Tapi apa jadinya jika kepercayaan mereka pada Tuhan telah hilang dan sudah digantikan dengan kebencian? Tidak perlu menunggu lama untuk melihat mereka tunduk pada Nabi dan Mesias palsu itu. Dan ketika waktunya tiba, maka tergenapilah apa yang sudah dinubuatkan Tuhan.