Kamis, 11 Juni 2015

A.D. : THE BIBLE CONTINUES (2015)

Judul : A.D. : The Bible Continues
Sutradara : Ciaran Donnelly, Tony Mitchell, Brian Kelly, Rob Evans, Paul Wilmshurts
Pemeran  : Juan Pablo Di Pace, Chipo Chung, Babou Ceesay, Will Thorp
Tanggal tayang : 15 April - 21 Juni 2015
Total episode : 10 (42 - 45 menit per episode)

Setelah serial televisi The Bible sukses tayang pada tahun 2013, maka tahun ini, serial televisi A.D. : The Bible Continues dirilis. Uniknya, meski merupakan "sekuel" dari The Bible, serial A.D. : The Bible Continues tidak ditayangkan di stasiun televisi History Channel, namun ditayangkan di jaringan NBC. Selain itu, semua pemeran di serial A.D. : The Bible Continues adalah orang baru semua. Satu-satunya "penghubung" antara seri The Bible dan sekuelnya adalah kreator serta penulis naskah cerita serial ini masih orang yang sama : Roma Downey dan Mark Burnett.

Berbeda dengan serial The Bible yang mengetengahkan cerita dari Perjanjian Lama (Kitab Kejadian) sampai Perjanjian Baru (Kitab Wahyu), maka di serial A.D. : The Bible Continues, keseluruhan ceritanya merupakan adaptasi dari Kitab Para Rasul saja.

Serial ini diawali dengan adegan proses penyidangan terhadap Yesus (Juan Pablo Di Pace) di hadapan Iman Besar Kayafas (Richard Coyle), yang kemudian berlanjut dengan Yesus dibawa ke Pontius Pilatus (Vincent Regan). Demi menjaga kedamaian dan memuaskan keinginan masyarakat, Pilatus memerintahkan untuk menyalibkan Yesus. Saat penyaliban Yesus, Kayafas meminta Pilatus memastikan kalau Yesus benar-benar mati di kayu salib.

Sementara itu, Yoseph Arimathea (Kevin Doyle) - yang juga seorang Imam seperti Kayafas - tidak setuju dengan sikap Kayafas terhadap Yesus. Maka saat penyaliban Yesus, dia meminta Pilatus untuk menyerahkan mayat Yesus padanya agar dimakamkan di tempat penguburannya. Tindakan Yoseph Arimathea justru mengundang amarah Kayafas karena Yoseph melakukan hal itu seolah-olah berusaha menggenapi apa yang tertulis di Kitab Yesaya. Tindakan itu dikuatirkan akan menimbulkan gelombang pemberontakan dari orang-orang yang pro-Yesus.

Di lain pihak, Petrus (Adam Levy) didekati Boaz (George Georgiou) - sahabat masa kecilnya - untuk diajak bergabung melawan Pasukan Romawi. Petrus menolak menggunakan Cara Pedang dalam menghadapi Pasukan Romawi, dan memilih menggunakan Cara Kasih seperti yang Kristus ajarkan padanya dan para murid yang lain.

Tiga hari kemudian, Yesus Kristus bangkit dari kubur dan menemui Maria (Greta Scacci) dan para murid-Nya. Kebangkitan-Nya itu kemudian merubah iman para murid dan membuat mereka semakin bersemangat untuk mengabarkan Injil. Namun perjuangan mereka tidaklah mudah, karena Kayafas berhasil mempengaruhi Gubernur Pilatus untuk menghabisi para pengikut Yesus. Lalu muncul Saulus dari Tarsus (Emmet J. Scanlan) yang tidak percaya pada Yesus dan bersumpah untuk menangkapi semua pengikut Yesus. Serial ini berakhir dengan bertobatnya Saulus dan mengubah namanya menjadi Paulus, kemudian bersama Petrus serta pengikut Yesus yang lain melakukan pengabaran Injil.

Dibandingkan serial The Bible, A.D. : The Bible Continues jauh lebih seru dan menegangkan. Alurnya sangat cepat. Intrik yang disajikan pun sangat menarik dan berlangsung sangat cepat. Harus diakui kalau banyak sekali adegan dalam serial ini berbeda dengan apa yang tertulis di Alkitab. Meski demikian, kalau diperhatikan secara keseluruhan, konteksnya tidak berbeda dengan yang tertulis di Alkitab.

Serial ini mendapatkan respon yang sangat positif dari para penonton. Episode pertama ditonton 9.68 juta penonton Amerika Serikat. Seri-seri berikutnya rata-rata ditonton sekitar 7-8 juta penonton. Hal ini membuktikan kalau serial televisi bertema agama seperti ini masih diminati oleh para penonton. Bahkan masih banyak orang yang haus akan kebenaran Firman Tuhan, sehingga butuh penyegaran melalui film-film seperti ini.


ABOUT "THE BIBLE"
Serial televisi The Bible adalah serial televisi yang tayang 3 - 31 Maret 2013 di Saluran Televisi History Channel. Dibuat dengan dana total US$ 22 juta, serial yang dikemas menjadi 10 episode ini mengetengahkan cerita mulai dari Kitab Kejadian (Perjanjian Lama) hingga Kitab Wahyu (Perjanjian Baru).

Ide pembuatan serial ini telah digelontorkan Roma Downey dan Mark Burnett sejak tahun 2010, karena mereka ingin mengingatkan kembali kepada Generasi Masa Kini tentang "Pengharapan Terbesar" yang ada di Alkitab. Mereka pun ingin Generasi Kini menyadari kalau Alkitab bukanlah kumpulan cerita yang berdiri sendiri, namun merupakan kesatuan yang tidak terputus yang menjadi pernyataan Cinta Terbesar Allah Tuhan kepada umat-Nya.

Episode pertama seri The Bible ditonton 13.1 juta penonton Amerika Serikat, dan menjadikannya sebagai serial televisi kabel dengan penonton terbanyak sepanjang tahun 2013. Seri-seri berikutnya ditonton rata-rata 8 - 10 juta penonton, dan membukukannya sebagai Serial Televisi dengan Rating Tertinggi dengan Penonton Lebih dari 100 juta orang di tahun 2013.

Salah satu bagian dari serial tersebut - tentang kehidupan Yesus Kristus - kemudian dikembangkan dan dirilis dalam bentuk layar lebar dengan judul Son Of God yang dirilis tahun 2014. Sedangkan untuk menanggapi respon penonton yang sedemikian positif, maka pada tahun ini, sekuel The Bible - berjudul A.D. : The Bible Continues - dirilis dan ditayangkan di stasiun televisi NBC.



DO YOU KNOW? 
Banyak stasiun televisi yang sangat tertarik dengan skenario The Bible buatan Downey dan Burnett. Masalahnya semua stasiun televisi tersebut meminta mereka untuk menghilangkan cerita tentang Yesus Kristus. Hanya History Channel saja yang setuju mendanai serial itu dibuat dengan utuh, lengkap dengan kisah kehidupan Yesus Kristus. Karena itulah serial itu kemudian diproduksi dan ditayangkan History Channel.


Untuk membuat skenario The Bible menjadi sebuah rangkaian cerita yang saling bersinergi dan berhubungan, Downey dan Burnett meminta nasihat dan masukan dari banyak pemuka agama Kristen, Katolik Roma, dan Yahudi terkemuka di dunia. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah : Geoff Tunnicliffe (World Evangelical Alliance), Rick Warren (Pastor Gereja Saddleback), Erwin McManus (Pastor Gereja Mosaic), Bobby Gruenewald (Ketua YouVersion Bible), Leith Anderson (Presiden National Association of Evangelicals), Frank Wright (Presiden National Religious Broadcasters), George Wood (Ketua General Council of the Assemblies of God in the United States of America), Craig Groeschel (Life Church), dam Denny Rydberg (Young Life).

Beberapa hari sebelum seri perdana The Bible dirilis di televisi, Downey dan Burnett menulis sebuah artikel di The Wall Street Journal yang meminta kepada Departemen Pendidikan Amerika Serikat untuk dapat menjadikan Pendidikan Alkitab sebagai Pelajaran Wajib di sekolah umum Amerika Serikat. Menurut mereka, "Alkitab merupakan dasar utama dari pengetahuan dunia masa lalu yang menjelaskan apa yang terjadi di dunia masa kini."

Untuk mencegah perdebatan saat serial A.D. : The Bible Continues ditayangkan di televisi, Palam Fidelis Publishing merilis traktat yang berisi penjelasan tentang Kitab Para Rasul. Mereka pun membuka forum "Diskusi Keluarga" bagi siapapun yang ingin mendiskusikan isi setiap episode dari serial tersebut.






WHERE WAS GOD? STORY OF HOPE AFTER THE STORM (2015)


Judul Film : Where Was God? Story of Hope After The Storm
Sutradara : Travis Palmer
Tanggal Rilis : 2 Juni 2015
Durasi : 86 menit

"Di manakah Tuhan?"

Itu adalah pertanyaan yang biasa kita lontarkan kepada Tuhan, ketika masalah bertubi-tubi menghantam. Kita kemudian kecewa, putus asa, dan pada akhirnya meninggalkan Dia. Benarkah Tuhan tidak ada ketika masalah datang menghajar kita? Benarkah Tuhan telah meninggalkan kita? Apakah hidup memang sudah tidak ada harapan lagi?

Mungkin film ini akan bisa menjawab, kemanakah Tuhan saat masalah menghantam kita.

Film dokumenter ini mengetengahkan kejadian sebenarnya yang terjadi di Moore, Oklahoma, Amerika Serikat pada tanggal 20 Mei 2013. Kejadian yang dikenal dengan sebutan "2013 Moore Tornado" itu terjadi di siang hari di mana tornado berukuran EF5 (Enchanted Fujita-5 : level serangan Tornado tertinggi. Tornado level ini menerjang dengan kecepatan di atas 322 kilometer perjam, berkekuatan destruktif, mampu menghancurkan gedung, termasuk bangunan berkonstruksi baja, bahkan dapat menerbangkan mobil, truk, dan kereta api hingga jarak 1.6 kilometer).

Bencana alam ini menghancurkan 1,150 rumah, mencederai 377 orang, serta menewaskan 24 orang. Tornado ini juga menghancurkan Sekolah Dasar Briarwood dan Plaza Towers Elementary School. Tujuh siswa dari sekolah Plaza Towers tewas dan sebagian staf pengajar sekolah luka parah tertimpa bangunan sekolah yang rubuh.

Dokumenter ini memperlihatkan banyak adegan mengharukan pasca bencana tornado : Para guru yang berjuang menyelamatkan anak didiknya yang tertimpa gedung sekolah yang runtuh, seorang pria yang terluka parah namun masih berusaha menolong seorang anak yang terjepit di dalam gedung, orang tua yang menangis menyaksikan jasad anaknya yang sudah tidak bernyawa. Saya yakin, hati Anda terasa sangat pilu melihat kejadian tersebut.

Namun di sisi lain, Anda diperlihatkan pula begitu banyak orang yang tiba-tiba bertobat dan menjadi pahlawan dalam bencana itu : Sepasang suami-istri yang sudah lama berjuang dari pengaruh narkoba. Seorang polisi yang mendapatkan pencerahan setelah dirundung kesedihan akibat kematian anaknya yang menderita kanker. Serta bagaimana seorang pastor yang menemukan makna keselamatan setelah kehilangan istrinya yang sakit keras, namun berhasil menyelamatkan banyak orang dari bencana tersebut.

Di dalam kehilangan dan penderitaan, banyak orang menemukan pengharapan dari pertolongan orang-orang di sekitar. Mereka bahkan menjadi pengharapan dan berkat bagi orang lain yang jauh lebih menderita. Bencana yang datang, tidak lantas menghancurkan hidup orang-orang di Oklahoma, namun justru menyadarkan mereka akan kehadiran Tuhan, dan bagaimana Tuhan ingin memakai mereka menjadi orang-orang yang bisa menjadi berkat, garam, dan terang bagi orang lain. Film ini dipenuhi banyak adegan mengharukan, yang dipastikan dapat membuat Anda menangis (minimal meneteskan air mata).

Where Was God? mengajarkan kita untuk memiliki Iman yng lebih teguh kepada Tuhan. Kadang dalam masalah yang dihadapi, kita selalu berharap Tuhan datang dan menolong kita dengan cara supranatural-Nya. Padahal di dalam setiap masalah yang kita hadapi, Tuhan selalu ada untuk kita. Dia menolong dengan cara-Nya yang ajaib. Bahkan di dalam masalah kita tersebut, Dia ingin membentuk kita menjadi orang-orang yang bisa jadi berkat, garam, dan terang bagi orang lain, agar nama-Nya dipermuliakan.

Film ini adalah film dokumenter, di mana orang-orang yang terlibat dalam film ini adalah orang-orang yang benar-benar mengalami sendiri bencana Moore Tornado, dan membagikan pengalaman mereka kepada kita semua. 

10 ARTIS PEMERAN TOKOH ALKITAB TERBAIK

Film adaptasi cerita Kitab Suci Umat Kristiani hingga hari ini masih menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dunia. Alur ceritanya yang menarik, disertai penggunaan teknologi sinematografi yang canggih, membuat banyak orang ingin tahu. Bahkan tidak sedikit orang non-Kristen yang menonton film itu, dan mendapatkan inspirasi serta pencerahan mengenai ajaran Kristen. Pada akhirnya, film adaptasi cerita Alkitab itu sukses, tidak saja secara komersil tapi juga sukses membawa pesan pengharapan bagi banyak orang yang menontonnya.

Kesuksesan film-film tersebut tidak terlepas dari peran para aktor dan aktris dalam film itu yang menjiwai peran tokoh Akitab yang mereka bawakan. Peran yang mereka bawakan itu sangat menyentuh, membuat para penonton tidak saja kagum, namun juga dapat tersentuh, yang pada akhirnya membuat para penonton itu bertobat dan iman mereka terbarukan lagi.

Berikut ini adalah 10 Aktor dan Aktris yang pernah memerankan tokoh Alkitab dengan sangat baik dan sempurna :

1. JIM CAVIEZEL - YESUS KRISTUS (THE PASSION OF THE CHRIST)
Meski film yang dirilis tahun 2010 ini mendapatkan protes keras dan kontroversi karena dipenuhi dengan adegan-adegan brutal dan mengerikan, serta ketidakakuratan dalam berbagai hal, tapi kita tidak bisa sangkal kalau Jim Caviezel - aktor pemeran Yesus Kristus - dalam film ini bermain sangat gemilang dan luar biasa.

Ya, Caviezel bermain dengan sangat baik di film tersebut. Bukan saja lewat aktingnya yang luar biasa dalam memerani Yesus yang mengalami penderitaan mental dan badani, tetapi juga penghayatannya pada peran tersebut lewat dialog bahasa Aramaic yang digunakannya sepanjang film. Jelas tidak mudah, karena bahasa itu bukan bahasa yang dipahaminya. Caviezel harus benar-benar mendalami kapan dia harus marah, sedih, keras, dan berbicara pelan.

Pemahamannya yang sedemikian hebat, membuat banyak orang takjub dan hormat pada peran yang dibawakannya. Jadi sangat wajar banyak orang yang kemudian bertobat, menangis terharu, bahkan pingsan saat menyaksikan adegan penderitaan dan pelepasan pengampunan Yesus Kristus yang dibawakan Jim Caviezel.



2. JEFFREY HUNTER - YESUS KRISTUS (KING OF KINGS)
Jauh sebelum film The Passion of the Christ meledak dan sukses, King of Kings (1961) sudah lebih dulu menjadi salah satu film adaptasi Alkitab yang paling populer di masanya. Dan Jeffrey Hunter diyakini banyak penonton sebagai aktor pemeran Yesus Kristus paling sempurna.

Peran Yesus Kristus yang dibawakan Hunter terbilang sangat sempurna. Mulai dari tatapan matanya yang teduh, cara bicaranya yang pelan namun tegas, bahkan dalam penderitaan saat Yesus disalibkan, semua adegan itu dibawakan Hunter dengan sangat baik, dan berhasil menyentuh hati banyak penonton. Karena pembawaannya yang begitu sempurna sebagai Yesus Kristus, banyak orang yang percaya kalau Jeffrey Hunter memiliki kesamaan wajah dengan Yesus Kristus, sehingga banyak pelukis yang kemudian mengunakan wajah Hunter sebagai inspirasi untuk melukis wajah Yesus Kristus.



3. CHARLTON HESTON - NABI MUSA / MOSES (THE TEN COMMANDMENTS)
Christian Bale boleh saja dipuji banyak orang berkat peran Nabi Musa yang dibawakannya lewat pendekatan yang berbeda dengan sangat brilian di film Exodus : Gods and Kings (2015). Tapi saya yakin tidak ada yang bisa menampik kalau sosok ikonik Nabi Musa paling sempurna dan sesuai dengan penggambaran Nabi Musa di Alkitab, adalah Nabi Musa yang dibawakan Charlton Heston di film The Ten Commandments yang dirilis tahun 1956.
Untuk menjiwai perannya sebagai Musa, Heston meluangkan waktunya mendalami semua literatur yang berhubungan dengan Mesir. Pemahamannya tentang kehidupan bangsa Mesir di masa lalu itulah yang kemudian membuatnya mampu menginteprestasikan sosok Musa dengan sempurna. Pada akhirnya, penonton menilai sosok yang diperani Heston inilah yang merupakan sosok dan penggambaran paling tepat dari Nabi Musa yang ditulis di Alkitab.


4. MAIA MORGENSTERN - MARIA IBU YESUS (THE PASSION OF THE CHRIST)
Hati ibu mana yang tidak tercabik-cabik melihat anaknya disiksa orang dan harus menderita bagi orang banyak? Inilah penggambaran paling realistis yang ditampilkan Maia Morgenstern saat memerani Maria, Ibu Yesus Kristus. Anda pasti ikut trenyuh saat melihat adegan tubuhnya terguncang hebat menahan amarah, sakit hati, sedih, perih, dan haru saat melihat anak kesayangannya disiksa sedemikian kejam oleh Bangsa Romawi.
Morgenstern benar-benar bisa menghayati perasaan seorang Ibu yang menyaksikan penderitaan anaknya tersebut. Begitu dasyatnya penghayatan peran Maria yang dia bawakan, hingga mampu membuat para penonton ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Maria.

Dari sekian banyak pemeran wanita yang pernah memerani Maria Ibu Yesus, Maia Morgenstern-lah pemeran pertama yang mampu membuat penonton menangis terharu.



5. OSCAR ISAAC - YOSEPH AYAH YESUS (THE NATIVITY STORY)
Pria mana yang tidak sakit hati ketika tahu kekasihnya tiba-tiba hamil? Dan pria mana yang punya iman sedemikian besar pada Tuhan yang kemudian mendedikasikan hidupnya untuk menjaga dan merawat anak yang ada di kandungan kekasihnya sebagai Anak Allah? Oscar Isaac menampilkan aktingnya yang sangat gemilang sebagai Yoseph, ayah Yesus Kristus di film The Nativity Story (2006). Meski di awal film dia tampil sangat "biasa-biasa saja", tapi penghayatan perannya mulai terlihat di tengah-tengah film, ketika adegan saat Yoseph membawa Maria ke Betlehem.

Perjalanan sulit yang ditempuh Yoseph dan Maria itu ditampilkan dengan sangat dramatis dan memukau. Oscar Isaac bermain dengan sangat baik sebagai seorang suami yang sangat kuatir pada istrinya yang sudah hamil tua. Bahkan akting paling dramatisnya - dan menjadi adegan favorit saya - adalah saat istrinya sudah harus melahirkan, dan Yoseph menggedor-gedor pintu rumah orang meminta bantuan, kemudian dengan panik membopong istrinya menuju ke kandang hewan untuk melahirkan. Isaac menampilkan akting yang prima, sehingga mampu mengaduk-aduk emosi para penonton.



6. VICTOR MATURE - SAMSON (SAMSON & DELILAH)
Epik Samson dan Delilah sudah beberapa kali dibuat. Bahkan Indonesia pun pernah mengadaptasi kisah ini (dengan diperani Suzanna sebagai Delilah). Namun tampaknya semuanya tidak dapat menyaingi kesuksesan film Samson & Delilah versi Cecil B. Mille yang dirilis tahun 1949.

Film ini merupakan film adaptasi terbaik kisah Samson dan Delilah yang legendaris tersebut. Alurnya sangat indah, ceritanya pun mengalir sangat dramatis. Bahkan saat Samson merubuhkan pilar biara yang mengubur dirinya, Delilah dan orang-orang Filistin menjadi adegan ikonik yang paling dramatis hingga saat ini. Selain filmnya, akting Viktor Mature sebagai Samson juga patut diacungi jempol. Meski pada awal perilisan film, aktingnya banyak dikritik karena dianggap terlalu kaku, namun justru kemudian dipuji karena dinilai sebagai penggambaran paling pas dari Samson yang ada di Alkitab.



7. HEDY LAMARR - DELILAH (SAMSON & DELILAH) 
Sama halnya dengan Victor Mature, Hedy Lamarr yang memerani Delilah dalam film Samson & Delilah (1949) juga mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari para kritikus.

Lamarr memerani Delilah yang menggoda dirasa sangat pas dan sempurna sekali. Mimik wajahnya yang menampakkan sosok wanita cantik yang menggoda dan licik, namun kemudian dapat berubah drastis menjadi wanita penuh penyesalan. Akting yang sedemikian kontras itu dibawakan Lamarr dengan sempurna, membuatnya memenangi penghargaan Best Screen Performance By An Actress yang diselenggarakan British Picturegoer Awards tahun 1951.



8. ANTHONY QUINN - BARABBAS (BARABBAS)
Meski karakter ini tidak banyak disebut dalam Alkitab, namun keberadaannya menjadi bagian dari rencana Tuhan untuk penyelamatan umat manusia. Karena itulah,meski Alkitab tidak menceritakan dengan detil latar belakangnya, banyak produser yang tertarik dengan peran Barabbas, sehingga membuat latar belakang fiksi karakter ini yang dihubungkan dengan kejadian di Alkitab.

Salah satu pendekatan karakter Barabbas yang dinilai paling pas dan sempurna adalah karakter yang diperani Anthony Quinn di film Barabbas (1961) yang disutradarai Richard Fleischer. Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Par Lagerkvist ini mengisahkan tentang kejadina yang dialami Barabbas pasca dipilih untuk dibebaskan dan Yesus Kristus disalibkan. Penyaliban Tuhan Yesus dan kebangkitan-Nya, ternyata merubah Barabbas - yang kala itu seorang penjahat - menjadi seorang pengikut Kristus sejati. Pertobatan ini membawanya  hukuman mati di mana pada akhir cerita dia disalib bersama Petrus dan beberapa orang pengikut Yesus.

Meski cerita Barabbas ini murni fiksi belaka, namun banyak orang percaya kalau Barabbas benar-benar bertobat dan menjadi salah satu murid Yesus paling loyal pasca kenaikan Yesus ke Surga. Hal ini tidak lepas dari akting Quinn yang sangat totalitas, sehingga mampu meyakinkan para penonton tentang sosok Barabbas ini.

TRIVIA : Pengambilan gambar adegan Yesus disalibkan dilakukan pada tanggal 15 Februari 1961, dan secara tidak sengaja bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari total di lokasi shooting. Kejadian ini memunculkan banyak spekulasi dan perdebatan. Ada yang menyebutkan waktu gerhana matahari total itu diketahui Sutradara Richard Fleischer dan sengaja melakukan adegan penyaliban tepat pada saat gerhana matahari total untuk menimbulkan efek supranatural. Namun banyak yang percaya kalau Fleischer memang tidak tahu akan ada gerhana matahari, dan pengambilan gambar dalam kondisi gerhana matahari total adalah murni "campur tangan Tuhan".



9.  ANTHONY HOPKINS - SAULUS / PAULUS (PETER AND PAUL)
Saulus / Paulus adalah salah satu karakter yang cukup berpengaruh di Kitab Perjanjian Baru. Perubahan imannya dari pembenci pengikut Kristus menjadi pengikut setia Yesus merupakan kisah transformasi hidup yang sangat dasyat dan mempengaruhi banyak orang.

Bisa dikatakan pemilihan Anthony Hopkins sebagai Saulus / Paulus dalam film Peter And Paul (1981) ini adalah sangat tepat. Hopkins adalah aktor serba bisa yang mampu memerani karakter baik dan buruk sekaligus dengan sangat sempurna. Jadi terasa sekali kemampuan akting luar biasa Hopkins di film ini saat dia bertransformasi dari Saulus yang kejam,menjadi Paulus yang lemah lembut dan penuh kasih. Film arahan sutradara Robert Day ini mengisahkan tentang kehidupan Saulus di awal, saat berjumpa dengan Kristus di Damascus, perkenalannya dengan Petrus, hingga pada saat dia dipenjara dan dieksekusi oleh Nero.



10. DIOGO MORGADO - YESUS KRISTUS (SON OF GOD)
Diogo Morgado merupakan aktor yang diyakini sebagai pemeran Yesus Kristus terbaik di era tahun 2000-an. Dia membawakan perannya di film Son of God yang dirilis tahun 2014 silam.

Di film tersebut, Morgado memerani Yesus Kristus sejak Yesus dibabtis Yohanes Pembabtis, hingga Dia disalibkan. Mimik wajahnya yang sangat teduh serta suaranya yang tegas namun lembut, membuat banyak orang terkesima dan takjub pada Morgado. Meski filmnya sendiri kurang mendapatkan respon yang baik dari para kritikus - mengingat cerita yang dibawakan terlalu "datar" - namun para penonton tidak akan melupakan wajah dan suara Morgado yang begitu berwibawa dan menggetarkan hati.


Senin, 25 Mei 2015

A BOX OF FAITH (2015)

Judul Film : A Box of Faith (2015)
Sutradara  : Auturo Gavino
Pemeran : Savanah McMahon, Julie Van Lith, Bill Wetherill
Tanggal rilis : 12 Mei 2015
Durasi : 89 menit


Satu kata yang muncul dari mulut saya saat usai menyaksikan film ini : Mengharukan.

Ya.... film ini membawa pesan yang sangat mengharukan, tentang bagaimana kekosongan hati seseorang yang ditinggal pergi orang yang dikasihinya. Dior (diperani dengan sangat baik oleh Savanah McMahon), adalah seorang gadis remaja 16 tahun yang sangat mengasihi kedua orang tuanya. Dia pun adalah seorang remaja yang percaya dan patuh pada Kuasa dan Kemuliaan Tuhan.

Kebahagiaannya tidak berlangsung lama, karena dia harus kehilangan ibunya yang meninggal karena kanker. Dia pun harus berpisah dengan ayahnya yang harus dipenjara karena melakukan sebuah kesalahan yang tidak disengajanya di tempat kerja. Maka tinggallah Dior remaja yang sendirian. Dalam kesendiriannya ini, dia belajar bahwa Tuhan ingin Dior lebih dekat dengan-Nya. Karena itu, ketika seorang pekerja sosial bernama Ms Ward (Julie Van Lith) berniat membawanya ke panti asuhan, Dior kabur dan bersembunyi di tempat kos ayahnya. Dia sangat percaya bahwa Tuhan akan menjaga dan menghidupinya, sehingga dia tidak butuh bantuan siapapun sama sekali.

Ms Ward yang penuh kasih sayang, mencoba mendekati Dior, namun selalu gagal. Dior kemudian mulai membuka diri dengan meninggalkan surat kecil yan diselipkannya di kaca mobil Ms Ward. Mengetahui Dior sudah mulai membuka hati padanya, Ms Ward kemudian merespon surat Dior dengan membalas surat tersebut dan memberikannya uang. Dior - yang tetap yakin akan pertolongan Tuhan - justru memberikan uang itu pada gelandangan, sehingga dia diperalat Emma (Laura Van Lith), seorang gelandangan yang berniat memeras Dior.

Berkat doa Dior yang tiada henti, Tuhan akhirnya membuka jalan padanya. Ayahnya yang ditahan, terbukti tidak bersalah, sehingga dia terbebas dari penjara. Namun bukan hanya mujizat itu saja yang Tuhan berikan pada Dior. Masih banyak lagi berkat-berkat tak terduga yang Dior dapatkan sebagai bentuk dari kesetiaannya pada Tuhan. Apa sajakah itu?

Film ini sungguh sebuah film yang indah karena menampilkan plot yang indah tentang penguatan setelah kehilangan, dan bagaimana iman dapat mengubah banyak hal.

Pada saat Anda sedang kehilangan, sedang mengalami penderitaan yang sangat, maka film ini adalah sebuah pilihan terbaik yang wajib Anda tonton.

AFTER (2012)

Judul Film    : After
Sutradara      : Ryan Smith
Pemeran       : Steven Strait, Karolina Wydra, Sandra Lafferty
Tanggal rilis : 14 September 2012
Durasi          : 90 menit

Film produksi Kanada ini adalah film bergenre horor-fantasi. Pertama kali dirilis tanggal 19 April 2012 di Nasville Film Festival, film ini ditayangkan ke publik Kanada pada tanggal 14 September 2012.

Film ini terbilang cukup menarik untuk disimak karena menampilkan akting yang sangat brilian dari Steven Strait dan Karolina Wydra. Sepanjang film, keduanya tampil berdua dan nyaris menguasai keseluruhan film dengan akting duet mereka.

Dikisahkan bahwa Ana (Wydra) adalah seorang penulis yang bekerja sebagai perawat. Satu malam dia menaiki bis untuk pulang. Dalam perjalanan pulang dengan bis itu, dia berkenalan dengan Freddy (Strait), seorang komikus. Namun baru saja keduanya bercakap-cakap, tiba-tiba terjadi tabrakan hebat.

Cerita pun berpindah, ketika Ana tiba-tiba terbangun dan menyadari dirinya berada di dalam rumahnya. Saat keluar dari rumah, dia menyadari kalau kota tempat tinggalnya kosong tanpa penghuni. Dia pun berjumpa dengan Freddy yang tinggal tidak jauh darinya. Keduanya mencari tahu keberadaan para penduduk. Namun saat berjalan menuju ke ujung kota, mereka menemukan kalau kota mereka dikepung oleh kabut gelap yang tebal. Apabila mereka mencoba menembus kabut itu, maka mereka akan sakit. Dan kabut itu ternyata terus bergerak mengepung mereka.

Ketika mencari tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi, Ana dan Freddy menyadari kalau apa yang mereka lihat saat ini bukanlah kejadian sebenarnya, tetapi kejadian alam bawah sadar mereka. Ana dan Freddy sedang dalam kondisi koma. Kabut gelap pekat itu tidak lain adalah waktu bagi mereka untuk tetap bisa hidup. Apabila kabut telah menutup seluruh kota, maka Ana dan Freddy pun akan lenyap.

Pencarian mereka kemudian menemukan bahwa di dalam kabut terdapat pintu yang harus mereka buka. Masalahnya kunci menuju pintu tersebut dipegang oleh seekor monster misterius yang terus-menerus mengejar mereka. Ana dan Freddy kembali menyadari kalau apa yang mereka alami saat ini sebenarnya tidak lain dari perwujudan masalah mereka di masa lalu yang harus mereka tuntaskan saat ini. Mereka harus berdamai dengan masa lalu, agar bisa melanjutkan hidup di masa kini. Sanggupkah mereka?

Film ini menarik karena mengangkat tema yang sangat universal, di mana setiap manusia sering punya kepahitan di masa lalu yang menghambat perkembangan kepribadiannya di masa kini. Film ini mengajarkan agar kita dapat mengampuni kepahitan di masa lalu, akan kita bisa lebih move-on di masa kini, sehingga bisa bertumbuh di masa depan.

After merupakan film yang cukup menarik karena dipenuhi dengan adegan yang menegangkan, dan terus-menerus mengajak penonton untuk mereka-reka, apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya. Pada akhirnya, meski film ini menampilkan monster dan ketegangan, namun ada perenungan yang dapat kita ambil dari film ini : Bahwa hidup jauh lebih baik ketika kita tidak hidup dengan membawa kepahitan dari masa lalu.

Jumat, 17 April 2015

CATASTASIS (2015)

Judul Film        : Catastasis
Sutradara          : Anthony Hackett
Pemeran           : Anthony Hacket, Mariela Hill, Eric Slodysko, Leshe Shari
Tanggal tayang : 3 April 2015
Durasi               : 88 menit

Mungkin ketika mendengarkan kotbah yang disampaikan Pendeta di Mimbar Gereja setiap minggu, kita semua mengira kalau apa yang disampaikan Pendeta itu adalah hal yang juga sang Pendeta itu lakukan dalam kehidupan sehari-harinya. Nyatanya tidak semua Pendeta melakukannya. Dan kalau pun dilakukan, sebenarnya mereka mengalami pergumulan yang sama hebatnya dengan kita. 

Film ini menggambarkan bagaimana sebenarnya perjuangan seorang Pendeta atau Pastor dalam melakukan apa yang dikotbahkannya setiap minggu di Mimbar Gereja. Dikisahkan Pastor Paterson (Anthony Hacket) adalah seorang Pastor yang selalu mengkotbahkan hal-hal yang termuat dalam Alkitab, dan selalu mengajarkan jemaatnya untuk menjalani hidup mereka sesuai dengan Firman Tuhan.

Namun satu pagi, Pastor Paterson tiba-tiba dibangunkan oleh sebuah telepon dari seseorang yang tidak dikenal. Orang tersebut mengatakan bahwa dia telah menyandera Pastor Paterson di dalam rumahnya, sehingga sang pastor tidak bisa keluar dari rumah. Satu-satunya cara agar Pastor Paterson bebas adalah dengan menjalankan semua yang pernah dia kotbahkan di atas Mimbar Gereja. Meski awalnya tidak percaya, tetapi setelah gagal melarikan diri dan tidak bisa keluar dari rumahnya, Pastor Paterson pun menyadari kalau dirinya terjebak di dalam rumahnya sendiri.

Intensitas ketegangan memuncak manakala orang itu mengancam akan membunuh Pastor Paterson jika dia tidak melakukan semua ajarannya sendiri. Penelepon tersebut mengetahui semua gerak-gerik Pastor Paterson di dalam rumah, sehingga tidak ada cara bagi sang Pastor untuk melarikan diri. Siapakah orang itu? Apa yang dia maui sebenarnya dari Pastor Paterson? Film ini berakhir cukup dramatis dan mengejutkan. Seperti apa? Tonton saja sendiri ya....

Film sederhana namun menegangkan ini menawarkan sebuah tontonan thriller yang mendebarkan, sekaligus memberikan moral pelajaran yang mendalam : Bagaimana pun juga Pendeta atau Pastor adalah juga manusia biasa. Meski mereka mengajarkan Kebaikan sesuai Firman Tuhan, belum tentu mereka sendiri mampu menerapkan ajarannya sendiri dalam setiap bagian hidup mereka. Karena itu, janganlah menganggap Pendeta atau Pastor sebagai Orang Suci yang tidak pernah melakukan kesalahan. Mereka bukan Tuhan yang sempurna. Mereka sama seperti kita. Hanya saja tugas mereka adalah mengingatkan kita tentang Firman Tuhan.


PRISONERS

Judul Film     : Prisoners
Sutradara       : Denis Villeneuve
Pemeran        : Hugh Jackman, Jake Gyllenhall, Viola Davis, Maria Bello, Terrence Howard
Durasi           : 153 menit
Tanggal edar : 20 September 2013

Film drama-thriller ini bisa saya katakan sebagai film yang sangat emosional. Mengharukan. Menegangkan. Sekaligus pula bikin penasaran dan penuh kejutan. Ceritanya terbilang cukup kompleks, tapi tidak rumit.

Dikisahkan dua keluarga - pasangan Keller Dover (Hugh Jackman) dan Grace (Maria Bello) dengan tetangganya Franklin (Terrence Howard) dan Nancy Birch (Viola Davis) - sedang mengadakan pesta Thanksgiving di rumah. Dalam suasana meriah itu, tiba-tiba kedua anak perempuan mereka yang masih kecil - Anna Dover (Ertin Gerasimovich) dan Joy Birch (Kyla Drew Simmons) - menghilang. Pencarian dilakukan di sekitar lingkungan rumah mereka, namun sia-sia.

Kedua keluarga itu kemudian menghubungi polisi. Adalah Detektif David Loki (Jake Gyllenhaal) yang turun tangan menangani kasus ini.Dalam waktu beberapa jam, mereka berhasil menemukan seorang pengendara kendaraan yang diduga mengetahui keberadaan kedua anak tersebut. Sang pengendara, Alex Jones (Paul Dano), ternyata adalah seorang remaja dengan intelengesi di bawah seratus dan bertingkah layaknya anak berusia 10 tahun. Setelah diinterogasi, polisi tidak menemukan adanya keterkaitan Alex dengan hilangnya kedua anak itu.

Namun Keller sangat yakin jika Alex adalah pelakunya. Terlebih ketika Alex dibebaskan - dan disantroni Keller di depan kantor polisi - dia berbisik pada Keller kalau "Mereka tidak menangis saat aku meninggalkan mereka" (They didn't cry until I left them). Petunjuk ini membuat Keller sangat yakin kalau Alex adalah pelakunya, dan tahu di mana anaknya disekap.

Keller kemudian menculik Alex dan menyiksanya. Namun betapa hebatnya Keller menyiksa Alex, tidak ada petunjuk apapun yang keluar dari mulut Alex.

Sementara itu, Detektif Loki mengalami kesulitan mengungkap kasus ini, karena semakin dalam dia menggali kasus ini, semakin tampak mustahil kasus ini diselesaikan. Dan tanpa sengaja, dia menemukan fakta-fakta baru, yang membawanya membongkar kasus-kasus serupa yang pernah terjadi 10 tahun silam. Film ini pun diakhiri dengan "happy ending" dan kejutan yang tidak terduga.

Banyak sekali adegan emosional yang ditampilkan di film berdurasi 2.5 jam ini. Penonton disuguhkan akting gemilang Hugh Jackman yang berperan sebagai seorang ayah, yang penuh penyerahan diri kepada Tuhan dalam pencarian anaknya. Meski anaknya hilang, namun dia tetap yakin kalau Tuhan akan menjaga dan dengan iman, dia terus mencari anaknya yang hilang itu. Perjuangannya pun akhirnya membuahkan hasil, meski nyawanya menjadi taruhan.

Sebagai sebuah hiburan, film ini menyuguhkan sebuah tontonan yang sangat menguras emosional, karena penuh dengan adegan yang mengharukan, mengejutkan, menegangkan, dan penuh misteri. Dalam peredarannya di Amerika Serikat, film yang dibuat dengan dana US$ 46 juta ini berhasil meraup keuntungan finansial hingga US$ 122 juta. Selain itu, film ini pun mendapatkan respon yang sangat baik dari para kritikus film dunia. Serta menjadi nominasi penghargaan internasional seperti Toronto International Film Festival 2013 dan Hollywood Film Festival 2013.



TENTANG "MISOTEISME"
Di balik ketegangan dan keseruan film Prisoners, sebenarnya ada konteks Injili yang ingin diangkat oleh Sutradara film, yaitu konteks tentang "Misoteisme". Ajaran apa itu?

Misoteisme adalah aliran "Membenci Tuhan". Aliran ini ternyata sedang sangat marak terjadi dan menyebar di seluruh dunia. Ajaran ini muncul sebagai bentuk kekecewaan banyak orang pada Tuhan yang - menurut mereka - sudah tidak lagi perduli dan meninggalkan mereka. Akibatnya banyak orang meninggalkan imannya dan memilih menjadi orang-orang yang membenci Tuhan dan sengaja melakukan hal yang tidak berkenan pada-Nya.

Kata "Misoteisme" sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu "Misos" (Benci) dan "Theos" (Tuhan). Istilah ini dikenal dan muncul pertama kali dalam literatur Islandia berjudul "Islendingasogur" atau "The Saga of Icelanders" yang terbit pada abad 10 Sesudah Masehi. Dalam tulisan itu, Hrafnkell - tokoh utama cerita tersebut - menyebutkan penyangkalannya pada Tuhan setelah melihat Kuilnya di Freyr dibakar dan dia menjadi budak negerinya sendiri.

Selain Misoteisme, konsep teologi lain yang mirip dengannya adalah Distheisme, di mana konsep ini mengajarkan kalau Tuhan tidak sepenuhnya baik. Bahkan bisa jadi Tuhan adalah Sang Iblis sendiri.

Banyak orang berpikir kalau baik Misoteisme maupun Distheisme adalah kepercayaan masing-masing pribadi, yang tidak akan mengganggu orang lain. Tapi faktanya, kedua ajaran ini sebenarnya sangat berbahaya karena dapat merusak iman banyak orang.

Seperti yang ditampilkan dalam film Prisoners, pelaku kejahatan dikisahkan adalah orang yang sangat patuh dan taat pada Tuhan, serta melakukan semua firman-Nya. Bahkan dia pun menyerahkan seluruh hidupnya untuk mendirikan Kerajaan Tuhan. Tapi imannya berubah total ketika anaknya meninggal karena Kanker. Kecewa dengan Tuhan, dia kemudian menculik dan membunuh anak-anak orang beriman, membuat mereka juga kehilangan iman kepada Tuhan, dan melakukan hal serupa seperti yang dilakukannya.

Aliran Misoteisme adalah sebuah kepercayaan yang sangat berbahaya, di mana orang yang telah kehilangan imannya pada Tuhan, kemudian menyebarkan kebenciannya pada Tuhan lewat cara yang ekstrim. Tidak hanya itu, mereka pun dengan mudah dapat dihasut untuk mempercayai ajaran-ajaran baru yang bersifat destruktif, karena orang seperti ini sangat "puas" dapat menyakiti hati Tuhan yang telah mengecewakan mereka. Dan jika Anda tidak percaya dengan fakta ini, coba renungkan : Mengapa banyak orang sedemikian mudah tertarik ikut organisasi ISIS, padahal mereka tahu kekejaman yang dilakukan kelompok itu?

Film ini mengajarkan kepada kita, orang-orang beriman, agar tetap bisa menjaga hati dan terus mempertahankan iman kita. Segala bencana, sakit-penyakit, kehilangan, kekecewaan, dan hal buruk seringkali diijinkan Tuhan, bukan karena Dia sengaja melakukannya atau telah meninggalkan umat-Nya. Tapi justru segala hal itu terjadi karena Dia ingin umat-Nya menjadi lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih siap dengan hal-hal yang lebih buruk lagi terjadi di depan. Sebab, akan datang bagi kita semua Mesias dan Nabi Palsu yang akan mendatangkan tanda dasyat dan mujizat yang akan menyesatkan orang-orang (Matius 24:24).

Apabila banyak orang masih punya iman pada Tuhan, maka Mesias dan Nabi Palsu itu tidak akan sanggup menyesatkan mereka. Tapi apa jadinya jika kepercayaan mereka pada Tuhan telah hilang dan sudah digantikan dengan kebencian? Tidak perlu menunggu lama untuk melihat mereka tunduk pada Nabi dan Mesias palsu itu. Dan ketika waktunya tiba, maka tergenapilah apa yang sudah dinubuatkan Tuhan.